Jumat, 17 Mei 2019

Let Me Take My Time

hallo.. i'm here..!
Suatu hari mungkin akan ada yang mencariku atau sekedar merindukanku. Seseorang yang menemukan tulisan ini aku pastikan telah mengenalku, entah dalam waktu yang singkat atau lama, tapi terima kasih sudah berkunjung dan menemukan tulisan ini. 

Ramai orang bertanya tentang kehidupan apa yang aku rencakan dan ingin kujalani setelah lulus. Beberapa yang bertanya bisa kujawab dengan rinci, namun kebanyakan kujawab dengan sekedarnya. Alasanya bukan karena aku ingin menjadi misterius atau tak mau berbagi, hanya saja beberapa orang yang bertanya sekedar untuk basa-basi, bukan peduli pada apa yang ingin aku lakukan. Sebagian lagi bertanya tapi tak serius memberikan ruang untuk bercerita, mungkin sebagain yang lain bahkan tak terarik. Tapi aku percaya, kamu yang membaca ini sudah siap menyediakan ruang untukku bercerita dengan rasa peduli. 

kita mulai dari pertanyaan, kenapa lulus?
Awalnya aku bertele-tele memikirkan jawaban untuk pertanyaan ini, kemudian aku akhirnya mendapat jawaban pasti. Alasan dari aku lulus karena aku sudah selesai memenuhi kewajiban beban studi untuk persyaratan jadi sarjana, mengikuti semua alur yang ada, proses perkulihan, dan tugas akhir yang menjadi syarat kelulusan. Umh.. tapi lebih dari itu, aku memiliki alasan emosi yang lain. Sudah kujelaskan di beberapa tulisan sebelum ini, aku bahkan tak berencana lulus dengan waktu secepat ini (bagiku ini cepat, meskipun lebih satu semester dari jatah studi yang ditanggung beasiswa). Alasan yang paling mendasarnya ada di keluarga besar, lebaran tahun 2018 lalu menyimpan banyak kisah yang sampai kapanpun tak ingin aku lupakan. Kronologi kerjadian di hari itu akan kutulis di judul lain. Sekarang kita lanjut ke pertanyaan selanjutnya...

Emang udah gak mau main hockey?
jawabannya pasti, jika aku hanya memikirkan diri sendiri mungkin aku akan memanfaatkan jatah studi yang ada. Aku masih mau mengikuti semua event mahasiswa, bersaing dengan yang lain untuk ada di tim, bermain secara militan dan menang atau kalah. Jujur saja aku masih ingin merasakan semuanya, karena momen itu adalah hal yang sangat berharga yang aku dapatkan saat menjadi mahasiswa. Sayangnya alasan pertama terlalu kuat, sampai aku akhirnya mengabaikan egoku. 

Aku tutup telinga tentang apa yang orang katakan padaku, mereka hanya tak mengerti yang menjadi pertimbanganku memutuskan untuk lulus. Aku merasa tak perlu menjelaskan apapun pada siapapun, karena aku percaya bahwa semua orang hanya akan tunduk pada apa yang mereka percaya dan ada dalam pikiran mereka. Setiap orang yang menemuiku entah sekedar mengucapkan selamat atau basa-basi yang lainnya hanya aku tanggapi dengan senyuman, termasuk meraka yang menyayangkan keputusanku untuk menyelesaikan studi ini dengan segera. Kemudian situasinya membuat aku terpojok dan tak enak hati saat mereka yang mengiraku tak peduli pada sahabat-sahabatku. Tapi di sisi lain aku adalah anak yang ditunggu oleh kedua orang tuanya untuk menyelesaikan studi, aku juga cucu dan anggota keluarga yang mereka tunggu kabar baiknya, aku adalah kebanggan keluarga dengan semua kekurangan yang aku miliki.

Kemudian kita lanjut pada pertanyaan selanjutnya yang sering orang tanyakan,
Setelah lulus mau tinggal di mana?
Aku memberikan waktu untuk diriku berpikir dan melakukan banyak hal di Jakarta. Sampai saat ini aku belum memutuskan setelahnya akan tinggal dimana, aku hanya memberi waktu sampai tahun 2020 a.k.a tahun depan untuk memutuskan kembali akan tinggal dimana. Bukan berarti setelah tahun itu aku akan meninggalakan Jakarta, aku hanya akan memikirkannya lagi kemudian memutuskan akan tetap tinggal di Jakarta atau ke kota lain, hmm.. bisa jadi ke Garut. Lagi pula, kehidupan ini terlalu dinamis, banyak hal yang ikut mempengaruhi disetiap keputusan yang diambil, hanya saja aku belum menemukan jawaban yang pasti. Lalu kenapa harus tahun 2020 aku memutuskan? setelah pertanyaan di atas biasanya ada pertanyaan susulan mengenai batas waktu untuk memutuskan. Banyak yang ingin aku coba, termasuk mengikuti seleksi beasiswa dan pengalaman kerja. Karena memang sebelum lulus aku sudah bekerja, aku hanya tinggal meneruskan pekerjaan yang ada, jika mau. Tapi sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku coba selain kerja yang sudah aku lakukan. Aku mau punya pengalaman ini, itu dan banyak lagi, banyak maunya, saking banyaknya kadang kalang kabut tentang yang mana yang harus didahulukan. hehehe

Beberapa orang yang peduli padaku begitu mengkhawatirkanku, tentang aku akan kerja di mana dan sebagai apa. Aku begitu menghargai semua niat baiknya, aku merasakan itu dan selalu meminta Allah menyayangi orang-orang yang menyangiku. Sebenarnya aku sendiri butuh cooling down, entah ini waktu yang tepat atau bukan, tapi aku hanya merasa membutuhkannya, karena menyelesaikan tugas akhir skripsi dalam satu semester begitu menguras semuanya. Rasanya mau teriak "let me take my time....!" pada semua orang yang mengkahawtirkanku karena aku masih belum kerja secara pasti dan teratur. 

Aku sempat mengambil jeda dengan tidak melakukan apapun, tapi setelah seminggu berlalu, nyatanya aku tak bisa tak melakukan apapun. Setiap bangun justru lebih mengerikkan saat tak punya tujuan, ketika tak memiliki beberapa hal untuk dilakukan. Akhirnya aku menyerah dengan mengirim surat lamaran ke salah satu sekolah swasta di daerah Jakarta Pusat. Menariknya adalah sekolah itu sekolah menengah ke bawah, tentang ini juga akan kuceritakan di judul lain, karena aku menemukan banyak fakta tentang pendidikan secara langsung di kota yang katanya kota metropolitan. Setelah itu aku terjebak dalam rutinitas. 

Merasa tidak puas dengan hal itu, aku juga mengirim beberapa lamaran via email. Hal menariknya adalah aku melamar sebagai penulis konten. Aku sudah mengirimnya ke beberapa media yang sedang membuka lowongan kerja, beberapa media sudah menyatakan aku di tolak, beberapa lagi sedang kutunggu keputusannya. Sekarang hari-hariku lebih menarik dari sebelumnya, setiap hari aku berharap ada kabar baik. hehehe. 

Hari ini mungkin kegagalan dan penolakan tidak asing dalam hidup yang kujalani. Semuanya bisa aku terima dengan "biasa aja" karena aku percaya ini juga bagian dari hidup. Bagian dari resiko yang harus aku hadapi. Aku tidak asing dengan semua harapan yang tak terpenuhi, pada akhirnya semua akan dilalui, dengan atau tidak kita sukai. Aku hanya menyakini bahwa Allah lebih tahu tentang apa yang aku butuhkan. Aku hanya berusaha semampu yang aku bisa lakukan, kemudian aku mendapat pelajaran dari perjalanan, karena ini juga tak ada hal yang sia-sia sekalipun harus mendapat kegagalan dan ketidak sesuaian harapan. 

Saat ini aku sedang berusaha menyelesaikan esai yang harus kuisi dalam form pendaftaran Indonesia Mengajar. Ini adalah bagian dari hal yang aku rencanakan, kemudian apapun yang akan terjadi di depan aku percaya itu adalah yang tebaik. 

Ah, malam ini sampai sini dulu ya ceritanya... tentang cerita yang yang kujanjikan akan berbeda judul pasti aku tepati, hanya saja tidak saat ini karena aku juga harus menyelesaikan yang lain. Aku selalu berharap kamu juga menjalani hari dengan baik, mendapatkan pelajaran dari setiap perjalanan yang dilalui. Mungkin kamu juga memiliki cerita yang sama atau bahkan yang lebih hebat dari cerita yang aku ceritakan, aku akan selalu bersedia mendengarkan ceritamu atau membacanya jika kau menulis. Alasannya sederhana.. karena itu kamu (: 





Selasa, 30 April 2019

Jakarta Setelah Hujan

Sore ini hujan mewarnai langit Jakarta, dia datang tanpa aba-aba dan begitu saja. Saat hujan memulai aksinya, aku sedang berada di stadion olahraga. Suana ramai menjadi daya tarik orang yang merasa sepi dengan kesendirian. Aku ada diantara banyak orang yang sedang berteduh dari sapaan hujan beserta petirnya.

Pandanganku berpusat kepada beberapa anak yang sedang bermain bola di lapangan. Sebagian dari mereka tak mengenakan baju, hanya celana pendek dan tanpa alas kaki. Mereka berlari mengejar bola, saling berebutan. Barangkali memang itu definisi bebas, saat manusia tetap melakukan apa yang ingin dilakukan tanpa bayang-bayang rasa takut. Padahal petir saling bersahutan memecah langit yang kelabu.

Kemudian pandanganku beralih pada sekelompok orang tepat tiga meter berkumpul dari tempat aku duduk. Mereka tanpa suara tapi aku melihat keriuhan di sana. Satu sama lain berkomunikasi dengan cara meraka sendiri tanpa aku mengerti sedikitpun. Aku hanya memahami tentang mereka yang bercerita dan mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Mereka adalah anak-anak tuna wicara dan tuna rungu. Bisa jadi, kebabasan itu ada saat kita merasa diterima dan bisa mengungkapkan isi kepala tanpa harus merasa tak diterima.

Saat hujan mulai reda, beberapa anak perempuan berlarian juga ke lapangan. Mereka bermain di genangan air. Saling menyipratkan air, menjorokkan temannya supaya kuyup, dan satu anak melakukan gerakan baling-baling, entah apa yang terlintas dipikiran mereka saat melakukannya. Tapi barangkali kebebasan itu adalah ketika tak peduli tentang apa yang orang lihat dan orang pikirkan terhadap apa yang kita lakukan.

Aku melihat diriku sendiri, aku merasa bebas karena aku tak terdistraksi oleh hal apapun. Aku merasa bersyukur atas apa yang sudah aku lakukan sejauh ini, meskipun tak semuanya mudah tapi aku bisa melewatinya. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menjadi sahabat terbaik untuk diriku sendiri.  Aku merasa bebas karena aku tak memikirkan apa yang seharusnya aku pikirkan. Tapi aku tetap iri pada ketabahan bumi, dia tidak pernah merasa terkhianati saat hujan datang tanpa pelangi. Bagaimana harimu? apa menyenangkan juga? aku siap mendengarkan saat kau ingin bercerita kapanpun.

Rabu, 10 April 2019

MY DAY #1


Kegiatanku dimulai setelah dzuhur, aku berangkat ke Kali-Sari menggunakan Tayo a.k.a busway jurusan Pulo Gadung – Kp. Rambutan (7M). Hari ini lumayan panas, meskipun langit menjatuhkan airnya di sore hari. Aku berniat untuk tidur di bis, tapi tak kunjung lelap karena sedang masuk period hari ke dua. Biasanya tidak sakit, hanya perubahan moody saja, tapi bulan ini sedikit sakit, bahkan sampai sekarang saat aku menulis ini. Gegara sebelum masuk period makannya pedes terus, sesi latihannya juga cukup berat, ditambah gak lancar karena minum air dingin. Harus nanggung akibat perbuatan sendiri deh.

Tadi saat sedang panas-panasnya dan matahari sedang menunjukkan eksisitensinya, aku terkendala pengemudi grab yang posisinya jauh dan sulit dihubungi. Akhirnya aku membatalkan pemesanan dan ganti pengemudi. Pas dapat pengemudi lagi, posisinya jauh dan tidak bisa dihubungi juga. Sayangnya batre handphoneku lowbat, berarti aku harus melipir dulu ke telkom untuk charger. Tapi pengemudinya tetap belum datang, padahal posisinya sudah tidak jauh lagi. Saat aku memutuskan untuk berhenti charger dan nunggu kembali pengemudi di dekat halte busway Harapan-Bunda, dia tak kunjung datang. Handphoneku sudah tidak aktif.

“Apakah aku mengisi lokasi yang salah?”tanyaku pada diri sendiri.

Mungkin iya, bisa saja aku mengisi tujuan yang benar tetapi mencantumkan lokasi penjemputan yang kurang akurat. Karena aku mengisi sesuai maps lokasiku saat itu. Ah, bodo amat. Aku perlu menanggung atas keteledoranku hari ini. Dengan cara apa? ada tiga opsi yang kupikirkan, yang pertama adalah naik angkot nomor 09 jurusan Pasar Rebo-Kali-Sari, tapi itu otomatis tidak aku pilih karena akan membutuhkan waktu lama, sedangkan waktuku sebentar lagi harus nyampe sekolah. Lanjut ke opsi ke dua, aku berpikir untuk memberhentikan pengendara motor dan memintanya menjadi ojeg dulu, kemudian mengantarkanku ke tujuan. Tapi aku berpikir lagi, saat itu aku tak membawa helm, dan banyak resiko lainnya yang bisa terjadi. Akhirnya pilihanku satu-satunya adalah minta tolong untuk dipesankan grab.

Saat aku menunggu, aku melihat ibu-ibu yang sedang menunggu jemputan grab juga, kemudian di depannya lewat pedagang lemari kecil. Bapak-bapak itu memanggul lemari dagangannya di bawah terik matahari, kemudian si ibu mengeluarkan sejumlah uang untuk diberikan pada si bapak itu dengan cuma-cuma. Hmm, menarik.. banyak celah untuk bisa saling memberi dengan sesama sesuai kemampuan.

Kadang aku—ah mungkin kita, banyak diajarkan saat menunggu. Memang menunggu itu tidak mudah dan menggelisahkan, tapi jika bersabar sebentar, Allah S.W.T mungkin menyisipkan pelajaran untuk kita ambil hikmahnya dan kita terapkan dalam menjalani kehidupan kedepannya. Setelah aku melihat kejadian itu, rasa khawatirku sedikit berkurang, karena aku percaya bahwa hal yang aku tunggu akan datang dan dipertemukan di waktu yang tepat, tanpa telat atau datang terlalu cepat.

Setelah jemputan ibu itu datang dan berlalulah begitu saja sosoknya, tapi pelajarannya begitu membekas. Dia berhasil menjalankan peran untuk memberikan pelajaran padaku. Semoga Allah S.W.T selalu melimpahkan rezeki padanya. Aamiin.

Dan kamu tak usah khawatir padaku, karena sesuai dengan apa yang aku percaya bahwa hal yang aku tunggu datang di waktu yang tepat. Tiba-tiba (dengan kebetulan yang direncakan olehNya) ada anak sekolah yang sedang menunggu angkot dan aku minta tolong padanya untuk memesankanku grab. Aku sampai di waktu yang tepat.