Sabtu, 16 Februari 2019

Setelah Dua Hari Perenungan Jadilah IKHLAS

Perjalanan ini mengingatkanku tentang betapa hidup ini adalah perjuangan. Meski dalam ketidak pastian, selama punya tujuan kita akan tetap melangkah. Tidak hanya waktu, kesempatan juga bisa berlalu jika tak kita gunakan dengan baik. Sesempit apapun jalan, kita akan tetap dihadapkan dengan pilihan. Meski sulit, terlalu menyesakkan dan bikin pecah kepala tetap saja semuanya harus dihadapi. Aku ingin menyerah, tapi ini bukan waktu yang tepat. Namanya hidup, komponen semangat dalam menjalaninya pasang surut seperti ombak dilautan. Apa ini terlalu dramatis?

Pikiran sempit membuat pola pikirku kacau (mikirnya udah kemana-mana. *gimana kalo gini, gimana kalo gitu), mungkin ini adalah salah satu karakter yang sedang di uji. Betapa sulit aku mengendalikan diri untuk tidak merasa cemas, khawatir yang berlebihan karena terlalu ambisius. Padahal yang aku lakukan tidak signifikan, malah memikirkan hal yang bukan kuasa kita. Maksudku memikirkan tentang akan bagaimana sikap orang lain kepadaku, bukan memilih jalan aku bersikap seperti apa pada orang lain.

Situasi yang sedang aku hadapi, ketika aku menghadapi ambisi, target diri sendiri, dan tidak enak pada orang tua cukup menghimpitku, membuatku semakin sesak. Akibatnya aku lupa mensyukuri hal-hal yang kecil. Astagfirullah.

Akan seperti apa sebenarnya perjalanan ini? Aku juga penasaran. Kemungkinannya adalah 50:50. Aku bertaruh atas kegagalan atau keberhasilanku. Diantara keduanya, apapun yang akan aku hadapi aku akan meyakini bahwa itu adalah yang tebaik, tentunya dari Allah. 

Senin, 28 Januari 2019

M E L A N G K A H

Hari itu aku berada di titik pasrahku pada Allah, aku percaya tentang apapun keputusannya adalah yang terbaik. Selama kita punya tujuan, hanya itu yang perlu kita pegang. Tentang bagaimanapun caranya Allah pasti menyiapkan banyak jalan, pilihan dan pelajaran yang bisa kita ambil. Lantas kenapa kita masih terus sedih karena mendapati satu jalan dalam kegagalan? 

Dinamika yang terjadi di masyarakat yang membuatku bercermin adalah siklus hidup yang hanya sekolah sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), sekarang sudah mulai naik ke tingkat Sekolah Menangah Atas (SMA). Kemudian bekerja dan menikah, selanjutnya bisa ditebak. Sesi kehidupan yang dijalani adalah berumah tangga dan membesarkan anak. Lupa bahwa punya keinginan yang harus dipenuhi dan mimpi yang dulunya dipegang erat harus perlahan di lepas karena terbentur realita. Apa ini salah? Apa ini siklus yang salah?

TIDAK.
TIDAK ADA YANG SALAH.
TIDAK ADA YANG HARUS DIHAKIMI, tapi TIDAK BERARTI SEPENUHNYA HARUS DIPAHAMI.

Sesekali kita harus menembus batas, diantara sekat-sekat pemikiran tentang hidup yang sudah menjadi siklus di lingkungan masyarakat.

Segala ingin dan harap membuatku berani, tepukan di pundak yang saat itu dilakukannya membatku berdiri sampai saat ini. Ketika aku pasrah dalam menaklukan restu dari orang tua, tiba-tiba ibu menguatkanku. Ditengah-tengah perjalanan menuju rumah temanku, siang itu, ibu bilang;

Jangan berhenti va, yakin kalo semua ini bisa jadi jalan untuk mengangkat nama baik orang tua di masyarakat”

kemudian beliau menepuk pundakku berulang kali. Meyakinkan keinginanku, memintaku menggenggam erat mimpi itu.
Proses pendaftaran yang tidak mudah tapi juga bisa diikuti turut mewarnai perjalanan hari-hari menuju keputusan besar pertama dalam hidup yang kujalani. Katanya lagi,

Jangan hanya karena kita perempuan, langkah kita jadi terbatas

“kita juga berhak meraih mimpi yang kita ingin, kita juga berhak memperjuangkan apa yang sudah menjadi pilihan”

Selama itu niatnya baik, apalagi untuk menuntut ilmu pasti ada jalannya.

Selanjutnya aku melakangkah, setelah pasrah tapi tidak menyerah, aku berserah pada sang pemilik resah, setiap malam meminta untuk ditunjukan arah demi mengatur langkah-langkah. Sesekali mungkin aku lelah, merasa jengah. Ingin berhenti ditengah-tengah, tapi keputusanku tetap melangkah.

Senin, 07 Januari 2019

Seribu Alasan

Foto by Pinterest 

Apa kamu sadar bahwa salah satu kebutuhan manusia adalah didengar? Semua orang berlomba-lomba ingin menyampaikan pendapatnya tentang sesuatu menurut sudut pandangnya, tapi lupa kalo dia juga harus mendengar argumen orang lain. Kebanyakan orang belajar tentang cara menyampaikan buah pikirannya tapi mengabaikan proses belajar mendengar. Berawal dari tidak didengar aku memutuskan untuk menulis, awalnya aku selalu menumpahkan keresahan di buku catatan harianku. Aku mulai menulis di buku itu sejak menginjak bangku SMP, kemudian sejak tahun 2015 aku mulai menulis di blog tanpa meninggalkan buku catatan harianku.

kita mulai belajar menulis dari satu huruf, kemudian menambahkan huruf yang lain menjadi kata-kata, menggabungkan setiap kata-kata menjadi kelimat yang bisa dibaca, dan mengumpulkan kalimat satu dengan yang lainnya menjadi palagraf. Kemudian aku menceritakan tentang keresahan yang ada dalam pikiranku. Awalnya aku hanya menulis tentang apa yang aku rasa, seiring berjalannya waktu aku juga mulai belajar menulis dari apa yang aku lihat. Prosesnya menyenangkan karena memaksaku untuk terus belajar.

Aku tidak bisa memaksa semua orang mendengar tentang cerita dari keresahanku, karenanya aku memutuskan untuk menjadi narablog. Bagiku sendiri menulis adalah proses mengenal diri sendiri. Kadang-kadang ketika aku menemukan pertanyaan dalam hidup yang tak kunjung aku temui jawabannya, bisa didapat saat aku menulis. Tiba-tiba aku berhenti menulis di tengah-tengah cerita karena ternyata aku mendapatkan jawabannya. Selain itu menulis adalah proses penyembuhan, ketika aku merasakan emosi yang negatif aku bisa mengendalikannya dengan menulis.

Foto by Pinterest 

Blogger memberikan ruang ternyaman untukku bercerita, tanpa takut dihakimi dan tidak disetujui. Selalu ada lembaran kosong untuk kubagi setiap cerita suka dan duka. Sejak awal tujuanku membuat blogger hanya sebagai catatan hariaku, tapi karena semua orang bisa berkunjung ke sana, aku sempat kaget saat salah satu tulisanku bisa mencapai 1.377 pembaca. Kurasa itu adalah momen spesial yang tak bisa kulupakan sampai saat ini. Barulah aku sadar tenyata respon pembaca juga berpengaruh pada semangat menulisku. Tapi itu hanya kepuasan sesaat karena ketika aku menargetkan pembaca bisa saja aku merasa puas tapi tulisanku tidak membuat aku bebas dari keresahan, karena yang aku mengkhawatirkan adalah pembaca dan respon orang terhadap tulisanku. Kemudian menambah keresahan yang ada.





Menulis mengajarkan aku untuk bisa jujur kepada diri sendiri dan aku merasa tidak nyaman menulis  supaya dibaca orang banyak. Aku kembali lagi pada tujuan awalku menulis dan tidak memikirkan pembaca lagi. Aku merdeka menulis apapun yang aku mau, selama itu tidak ada yang dirugikan. Tidak ada resolusi lain di tahun ini selain tetap menulis untuk menemukan seribu alasan kenapa aku harus menulis.