Jumat, 20 September 2019

#1 Tulisan Pertama//B E R B E N A H

Hatiku tergerak untuk memerintah otak mengintruksikan jariku menulis tentang ini. Tulisan ini kupersembahkan untuk seseorang yang ditakdirkan 'sepasang' denganku. Mungkin kau akan menemui tulisan ini dengan ajaib, atau aku sendiri yang akan memberi tahunya suatu hari nanti. 

Sampai detik aku menulis ini, aku belum tahu siapa kamu. Mungkin kamu adalah orang yang tak asing bagiku, atau bisa jadi garis hidup kita tak bersinggungan sama sekali. Sejujurnya aku belum ingin menikah, maaf jika kau akhirnya harus menunggu. Barangkali saat ini kau sedang tersesat, sedang menjalani hubungan dengan orang lain. Aku tak apa, benar-benar tak masalah. Suatu hari kau juga harus menceritakan tentang hari ini padaku. 

Saat kita bertemu suatu hari nanti, sesuangguhnya hatiku sudah tak utuh lagi. Ia sudah berapa kali mengalami bangun dan jatuh dalam urusan cinta. Sudah banyak patah dan luka dalam hatinya, aku berharap kau akan menerimanya, aku pun akan melakukan hal yang sama. Hari ini aku ingin B-E-R-B-E-N-A-H; berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan luka dan menerima semua yang terjadi.

Aku mengibaratkan hatiku seperti kubikal. Ia terdiri dari beberapa ruangan. Ada ruang yang diisi penciptaku, nabi dan rasul, dan hal-hal yang menyangkut dengannya, ada ruang yang berisi orang tua dan kelurga, teman dan sahabat, dan tersisa satu ruang untukmu. Nah, ruang yang tersisa untukmu itu saat ini dalam kondisi tak baik. Aku mafhum jika kamu tak ingin menempatinya sekarang. Aku berharap kita dipertemukan dalam waktu yang tepat, pada garis takdir yang pemilik kita persiapkan.

Jika hari ini masih ada yang buat kamu penasaran, tuntaskan itu sampai kau menemukan jawabannya sendiri. Jika masih ada yang kamu kejar, dapatkan ia sampai kamu merasa puas, tuntaskan semua mimpimu, sebelum kita menjalani mimpi-mimpi yang akan kita rancang berdua. 





Kamis, 19 September 2019

Cerita Kelas Dua Esempe

Kelas dua SMP aku pernah di datengin sama beberapa teman satu angkatan, hanya saja kami beda kelas. Mereka berbanyak, aku lupa jumlah mereka. Awal permasalahannya karena aku dekat dengan mantan kekasih salah satu dari mereka. Aku dibobol banyak pertanyaan tapi tak diberi kesmpatan untuk menjawab. Bahasa keren dalam pergaulanku, aku sedang "diontrog". Kata itu populer di lingkunganku. Biasanya adek kelas yang centil, ganjen, dan terkesan menentang diontrog sama kakak kelas. Entah motifnya apa. Hanya saja mereka bergerombol satu geng datang ke adik kelas. Kemudian adek kelas dikata-katain dengan kata-kata kasar. Jika sudah ada salah satu yang diontrog biasanya semua adek kelas waspada dan menjaga sikap. Nah, lucunya aku diontrog sama teman satu angkatanku.

Aku menyayangkan sekali hari itu aku tak berdaya dan tak bisa melawan mereka, atau karena saat itu aku sendirian. Bersyukurnya aku lupa kalimat apa yang mereka ucapkan. Ada satu orang yang membelaku saat itu, dia adalah teman sebangku saat kelas enam SD. Dia membelaku dengan memberi argumen dan menjelaskan sesuatu pada mereka yang kebetulan pptemannya. 

***

Kronologinya dimulai dari aku yang dipertemukan temanku bersama mereka. Kami berteman, hanya pertemanan biasa dan tak pernah saling curhat. Suatu hari ada salah satu dari mereka yang curhat padaku tentang seseorang. Dia menyukai seseorang yang aku sukai sejak kelas satu. Dari dulu, setiap orang yang suka dengan orang yang aku suka, aku selalu membiarkannya. Malah aku yang comlangin mereka, sampai akhirnya mereka jadian. Sayangnya hubungan mereka tak berlangsung lama. Entah apa pemicunya, karena setelah mereka jadian, aku tak berkomunikasi dengan keduanya. Aku meilih menghindar dan tak mau bertemu mereka. 

Beberapa minggu setelahnya, aku mendapat kabar bahwa mereka sudah putus. Orang yang aku suka mengetahui tentang perasaanku padanya. Tak lama dari itu, kami jadian. Iya, aku menjalin hubungan dengannya. Apa ini salahku? Hari itu aku tak merasa melakukan kesalahan, karena aku lebih dulu menyukainya dibanding dia. Ah, atau sebenarnya itu hanya alasanku untuk merasa dibenarkan. Hmm, baca cerita selanjutnya.. jangan menyimpulkan sesuatu dulu.

Singkat cerita aku menjalani hubungan yang baik-baik saja dengannya. Tapi hubungan pertemananku dengan mereka jadi tak baik, sampai akhirnya terjadilah proses ontrog itu. Saat aku diontrog, dia tak tahu dimana. Malamnya dia bertanya tentang apa yang terjadi dan aku tak menjelaskan apapun. Setelah kejadian proses ontrog itu, hubunganku dengan dia juga jadi tak seperti biasanya. Dia berubah jadi dingin, tak ada penjelasan apapun, sampai aku tahu dari temannya bahwa dia ingin mengakhiri hubungannya denganku. Aku menghubunginya dan dia tak menjelaskan apapun juga. Akhirnya aku tarik kesimpulan bahwa memang benar dia ingin mengakhirinya.

***

Kami menjalani kehidupan masing-masing. Kamu tahu apa yang terjadi setelahnya? Ah iya, lupakan. Kamu bukan peramal. Biar kuceritakan lagi..

Beberapa tahun kemudian, saat aku berpapasan dengan orang yang pernah ngontrog___mereka seperti malu sendiri. Aku sekadar berimajinasi, saat aku bertemu mereka aku hanya akan melihat mereka dengan ujung mata kiriku, dan menyunggingkan senyum kemenangan di ujung kanan bibirku. Hahaha  lupakan...!
Aku memaafkan mereka sebelum mereka memintanya. (Tapi itu peres...!). Enggak deng...! 
Aku memaafkan mereka karena diriku sendiri, karena aku tak mau sama dengan mereka.

Saat itu mungkin kami merasa bahwa selalu ada yang lain yang merebut seseorang dari hidup kita. Kemudian, cenderung merasa bahwa orang lain salah. Tanpa berkaca pada diri sendiri. Ngakunya atas dasar sayang sama diri sendiri tapi dengan cara menyakiti orang lain. Semoga kita bisa sama-sama saling belajar.

Selasa, 17 September 2019

Kamu pernah gak sih ada di posisi harus milih salah satu diantara pilihan melanjutkan study atau kerja?
Beberapa temen yang memutuskan tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SMP alasannya mau bekerja dan membantu perekonomian keluarga. Kemudian ada juga yang memutuskan untuk tidak kuliah karena merasa kalo pilihan mereka memiliki asumsi tidak sayang keluarga karena orang tua masih harus nanggung biaya kuliah, sedangkan banyak anak dengan usia yang sama sudah bisa meringankan beban perekonomian keluarganya.

Bagiku sebenarnya bukan tidak sayang sama orang tua, tetapi keinginanku untuk sekolah begitu kuat. Waktu itu aku berpikir, "... yang penting sekolah dulu sampe SMA, nanti kalo udah nikah bisa dilanjutin kuliah, biayanya dari suami." Aku juga sama seperti gadis lain yang berharap kedatangan seorang pangeran yang akan membebaskan diri ini dari kehidupan sebagai anak. Menurutku yang penting jadi istri yang baik, terus nanti minta suami buat biayain kuliah. Hehehe. Ih, tapi itu dulu. Seiring waktu berjalan, pemikiran juga berkembang karena keadaan dan lingkungan. Bayang-bayang tentang istri yang disiksa suaminya, bayangan tentang perceraian dan kisah suami brengsek karena punya banyak harta membuat rasa takutku semakin menjadi. Sejak saat itu aku berpikir bahwa aku tak bisa bergantung pada siapa pun, karena tak ada jaminan atas segala sesuatu. Hal yang bisa kita lakukan adalah tentang "bagaimana kita bisa survive dalam situasi dan kondisi apapun."

Dilematis selanjutnya terjadi saat pertengahan kuliah, sekitar semester lima. Beberapa teman yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah ternyata gajinya sudah lumayan besar, mereka sudah bisa meringankan beban keluarganya dalam segi materi. Beberapa yang memutuskan untuk menikah sudah mapan bersama suaminya. Sedangkan aku masih merasa aman saat tidak memiliki uang tabungan karena masih bisa minta sama orang tua.

Saat ini aku sudah bekerja, lebih tepatnya memilih bekerja dulu dibanding melanjutkan study. Sebenarnya mau lanjut kuliah, tapi setelah beberapa waktu menjalani dunia kerja, ternyata ada sensasi yang berbeda saat bisa memberikan gaji kita pada orang tua, mendengarkan ingin mereka dan berusaha memberikannya. Mungkin apa yang aku sisihkan belum ada apa-apanya dibanding sama apa yang sudah mereka beri. Tapi kebahagian itu berlipat-lipat tambahannya saat bisa memberi yang kita punya pada mereka. Temen-temenku yang lain barangkali sudah melakukan lebih banyak. Sekarang aku merasa ada di posisi mereka beberapa tahun lalu; memilih bekerja untuk meringankan beban keluarga.

Aku punya satu adek SMP, sekarang kelas dua. Pas pulang kemarin, aku minta ijin buat tanggung jawab sama biaya adek. Mulai dari biaya sekolah dan uang jajannya. Biaya pendidikan dia sudah masuk dalam prioritas tabunganku. Apa pundakku sekarang lebih berat? Kurasa tidak, hidupku lebih bermakna dari sebelum ini. Hanya saja aku merasa tak pantas menyerah, karena jika itu terjadi, artinya aku mengorbankan banyak jiwa.

Semua hal di atas nyambung dengan soal "menikah". Hmm, teman-temanku itu nabung untuk biaya pernikahan mereka, atau sebagian ada yang hanya memikirkan inginnya sendiri, masalah biaya pernikahan, mereka bisa mengandalkan orang tua mereka. Aku tidak. Alokasi tabunganku banyak, dan untuk biaya pernikahan, aku gak bisa nabung sendirian, harus berdua. Aku bukan tidak mau menjalankan syariat dengan taaruf dan langsung nikah. Hanya saja aku butuh persiapan, dan itu bukan hanya soal mental, karena teman-temanku yang sejak lulus SMP saja bisa melewati rumah tangga dan dewasa seiring berjalannya waktu. Aku berbeda, persiapanku masih banyak, biaya tabungan sekolah adek masih belum cukup, tabungan buat orang tua pasca aku menikah juga belum cukup. Iya, aku memikirkan itu. Kamu bisa bayangin saat nanti aku berkeluarga, mereka bisa mengandalkan siapa, sedangkan bapak sudah tua untuk kerja, mama memang tidak bekerja dan adek masih harus sekolah.

Situasi ini yang akhirnya membuat aku tak larut dalam patah hati. Keadaan ini membuat aku ikhlas melepas seseorang yang akhirnya meminang orang lain, melepas seseorang yang memutuskan pergi, atau seseorang yang memilih orang lain dibanding aku. Masalah luka-luka yang aku rasakan seperih apapun ia adanya, itu urusanku. Aku sembuh bersama waktu, meskipun tak mudah.