Kamis, 17 Mei 2018

Rindu

Munggahan, kata itu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonseia khususnya orang islam sunda karena memang kata itu berasal dari bahasa sunda. Arti kata dari munggahan itu adalah kecap pagawean nincak ti handap ka nu leuwih luhur, naek ka tempat anu leuwih luhur (Danadibrata, 2006:727), dalam bahasa Indonesia artinya adalah kata kerja beranjak dari bawah ke tempat yang lebih tinggi, naik ke tempat yang lebih tinggi, di dalam kamus bahasa sunda (1992). Munggah berarti hari pertama puasa pada tanggal satu ramadhan. Jadi munggah itu bukan hanya berarti makan-makan bareng atau botram, lebih dari sekedar itu menandakan bahwa kita harus beranjak ke hal-hal yang lebih baik dari sebelumnya.

Setiap keluarga mempunyai cara nya masing-masing dalam menyambut munggahan ini, antusiame orang sunda dalam perayaan munggahan lebih terlihat di banding yang lainnya. Madrasah atau masjid tempat anak-anak belajar agama biasanya mengadakan kenaikan kelas dengan di gelar nya acara yang semua pengisi acaranya adalah anak-anak yang belajar di sana, ada yang baca surat-surat pendek sampai yang panjang dan do’a-doa’a pilihan di panggung sebagai ajang untuk menunjukan hasil belajar nya kepada orang tua mereka selama satu tahun terakhir. Tidak hanya itu, tarian anak-anak, drama dan opret juga sering dihadirkan dalam pementasan  acara ini. Beberapa madrasah menyertakan pawai obor, berjalan menyusuri desa di jalan raya dengan batas yang sudah di tentukan, biasanya tidak telalu jauh supaya bisa di tempuh dengan berjalan kaki, menggunakan sandal capit yang di miliki, dengan busana muslim, anak laki-laki menggunakan baju koko yang mayoritas berwarna putih, dengan celana hitam dan yang tak boleh ketinggalan adalah peci milikinya, kalo anak perempuan bisanya menggukan baju gamis dan kerudung. Obor hanya dibawa anak laki-laki yang sudah berumur 10 tahun minimal, sisanya ikut mengiringi dengan mengucapkan kalimat takbir.

Gema takbir dalam rangka menyambut ramadhan terdengar di penjuru desa. Suara cempreng milik anak-anak memenuhi jalanan. Di tengah kegelapan malam mereka berjalan, hanya menggunakan pencahayaan bulan dan kerlap kerlip dari cahaya api obor yang mereka bawa. Lalu di persimpangan jalan bertemu dengan rombongan dari desa yang lain. Keakraban berbaur menjadi satu, tidak mengenal kasta dan semua sama rata. Setiap orang merasakan kebahagiaan yang tulus, kegembiraan yang mereka lukiskan dengan tawa. Mayoritas yang mengikuti acara ini adalah anak-anak dan beberapa orang pemuda yang masih peduli dengan hal semacam ini, tapi tentunya di pandu oleh orang dewasa atau bapak-bapak yang aktif di masyarakat. Berbeda dengan kegiatan ibu-ibu dan perempuan dewasa lainnya, dalam menyambut acara mungghan ini para wanita menghabiskan waktu nya di dapur, berkutat dengan peralatan dapur dan bahan makanan yang terhitung mewah di banding dengan hari-hari yang lain. Setiap keluarga mempunyai menu khusus munggahan nya masing-masing. Kalo keluarga aku sendiri biasanya mama masak daging rendang dan sayur. Sayur nya bisa apa saja, kadang sop tapi sering nya adalah sayur tahu dengan santan kental, soal nya bapak seneng makanan itu. 

Orang bilang menu spesial munggahan ini ditunjukan untuk menambah semangat dalam menjalani puasa sebulan penuh. Sebenarnya bagi aku sendiri alasan itu sangat klise, tapi beberapa orang yang tinggal di lingkungan rumah aku mempercayainya. Apapun itu selama niat dan tujuan nya benar tidak ada yang salah dan tidak ada yang harus di perdebatkan. Hal yang tidak boleh terlewatkan setelah itu adalah melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid terdekat, kebetulan rumah ku tetanggan sama masjid jadi kalo di rumah tidak ada alasan yang berarti mengenai jarak yang di tempuh untuk ke masjid, tinggal di kuatkan saja niat nya.

Suasana masjid di hari pertama akan penuh, semua penghuni nya dari mulai anak-anak, remaja dan orang dewasa melaksanakan shalat tarawih. Lalu selesai melaksanakan shalat, semua yang ada di sana saling berjabat tangan sesama mukhrim, untuk kemudian saling memaafkan antar sesama atas kesalahan dan perbuatan yang di sengaja maupun tidak.  Perasaan damai pun muncul dalam hati masing-masing. Suasana sakral biasanya terjadi setelah pulang ke rumah dan bermaafan dengan anggota keluarga yang ada di rumah. Meskipun sangat banyak kesalahan yang tak terhitung dengan cinta dan kasih sayang semua di maafkan. Timbul lah perasaan damai yang sesungguhnya, lalu kita memulai puasa besok nya dengan perasaan yang nyaman, saling berkasih sayang dengan sesama.

Semenjak aku tinggal di perantauan, di tempat ku berdiri sekarang. Ibu kota yang ramai di bicarakan karena sifat manusia nya. Tidak terlihat pawai obor di tempat ku tinggal, tidak shalat tarawih berjamaah di masjid, tidak masak rendang dan sayur. Tidak menjabat tangan mama dan bapak secara langung untuk meminta maaf. Aku hanya sendiri, mencoba menikmati semua yang aku jalani sekarang dan tentu saja aku rindu. Semua hal yang selalu aku lewati di rumah dalam rangka menyambut bulan ramadhan tidak sama lagi seperti saat ini. 

Orang-orang di perantauan memanfaatkan libur awal puasa untuk pulang dan melebur rindu nya kepada orang-orang yang mereka sayangi. Melihat wajah-wajah yang selalu mengharapkan sosok kita dan selalu menunggu waktu untuk kita pulang. Mereka memecahkan celengan rindu masing-masing yang sudah di tabung sejak dalam perantauan. Melaksakan shalat taraweh bareng, melaksanakan sahur bareng dan berbuka puasa bareng. Tampaknya ada yang berbeda dengan ku, karena yang aku bicarakan adalah mereka, aku tidak. Aku masih terus menabung rindu yang setiap hari nya selalu bertambah dan menguat. Alasan yang membuat aku tidak pulang di hari pertama puasa karena ada beberapa yang harus aku selesaikan di sini. Orang tua juga akhirnya harus kena imbas dan mereka masih harus terus memendam rasa rindu dan memperkuat do’anya.

Sebenarnya ini bukan masalah priotitas karena tentu saja pusat semesta ku adalah keluarga. Mereka adalah rumah tempat aku pulang, tempat yang paling indah dan aku hanya akan pulang pada pelukan mereka. Hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan, ah.. beruntungnya aku memiliki keluarga yang begitu pengertian dan dalam suasan seperti munggahan ini mereka masih sudi saling memendam rindu dan tetap menjaga harap untuk anak sulung nya yang tak tahu diri ini. Hanya meminta maaf kepada orang tua lewat text tidak bicara langsung atau bertatapan muka. Terlebih lagi karena rasanya diri ini tak kuasa jika harus seperti ini, berjarak dan hanya melihat mereka dari layar. Dibanding drama dan menangis sedu sedan aku memilh untuk menghindari suasana itu saja. Toh aku juga akan pulang dan memecahkan celengan rindu ku. InsyaAllah.
.
.
.
#day 1
#ramadhanberkisah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar