Kamis, 17 Mei 2018

Amarah

Sebuah kata pamit memberikan makna besar bagi seorang perantau atau dia yang akan meninggalkan tempat yang selama ini di huni. Dalam kurun waktu satu tahun aku biasanya hanya pulang ke rumah sekitar dua sampai tiga kali. Setiap aku pamit akan pergi lagi selalu di iringi haru dan tangis, padahal bukan hanya sekali dua kali. Posisi orang yang meninggalkan memang tidak akan pernah merasakan betapa merana dan tersiksanya orang yang ditinggalkan. Saat orang yang meniggalkan memperpanjang langkah nya, justru yang ditinggalkan masih sibuk saja mencemaskan, menunggu saat-saat kembali dan pulang lagi dalam pelukan.

Dari semua kata pamit yang aku lakukan tidak pernah ada yang membuat ku sampai tersedu karena ku ingat tentang alasan aku pergi. Bagaimana pun hidup harus terus berjalan, mengalir seperti air. Meraih mimpi-mimpi yang semakin hari semakin tampak harus ke mana langkah nya. Tapi ada satu hal yang aku sesali saat aku pergi tak mengucapkan kalimat pamit seperti biasanya karena saat itu aku sedang di kuasai oleh amarah.

Kepulangan ku waktu itu tersebab karena ada double libur yang bisa aku pergunakan waktu nya untuk pulang ke kampung halaman. Hari itu rindu ku sudah membuncah dan setiap kepulangan ku, sebelum sampai rumah pasti selalu buat list apa saja yang mau di lakukan selama di Garut setiap hari nya. Banyak orang yang harus aku temui untuk memberikan kabar secara langsung bahwa aku di sini baik-baik saja, mereka tak usah khawatir. 

Agenda khusus kepulangan ku hari itu adalah masak bareng mama. Selama di perantauan aku tak pernah memasak sekali pun karena ibu kost melarang untuk memasak dengan banyak alasan. Kebetulan saat aku di kost san dan sedang berdialog dengan mama di handpohone, 
“Mama lagi apa?” Tanya ku
“lagi masak nih…” jawab nya lengkap dengan suara penggorenagan yang sedang menggoreng sesuatu
“masak apa mah?” penasaran
“masak bala-bala…” 
FYI, kalo di tempat ku  bala-bala adalah nama lain dari bakwan.
“mau maah….” ungkap ku dan memang tak bohong
“yaudah nanti pas ke Garut kita masak bareng bala-bala ya.”
percakapan pun merembet ke hal yang lain, tapi yang pasti setelah dialog itu, masak bareng mama adalah agenda yang sangat aku tunggu-tunggu.

Waktu pulang pun tiba, aku mengupas tuntas jarak bentangan kilo meter yang sebelumnya membuat ku tak bisa melihat wajah orang-orang yang aku sayang. ketika sudah sampai di rumah rasanya ada yang kurang karena bapak yang posisi nya sedang di Bandung belum nyampe rumah, masih di perjalanan. kami memang sengaja meluangkan waktu untuk sekedar bertemu.

Padahal belum lama sampe, tapi karena agenda yang di tunggu sudah di nanti-nanti dari lama, jadilah hari itu juga aku ingin memasak bala-bala. Hanya saja mama bilang “nanti aja agak sorean, kan teteh juga baru nyampe, sekalian tunggu bapak.” aku menurut.

Ba’da maghrib, tibalah bapak dari Bandung dengan wajah peluh nya setelah seharian bekerja untuk menafkahi keluaga nya dan menjadi satu-satu nya manusia yang di percaya Allah sebagai pelantara rezeki istri dan anak-anak nya, manusia paling amanah menyampaikan rezeki keluarga nya. Lalu setelah isya, tibalah kami untuk memasak. Hanya saja, waktu itu karena mama sedang repot ngurusin yang lain, meminta aku untuk menunda lagi dan memberi intruksi untuk meminta kol dulu ke sodara yang rumah nya dekat dengan rumah kami, tentu saja aku tak mau. Mamah juga meminta shani untuk ke rumah saudara dan dia pun sama tak mau nya dengan ku. Tersebab karena malu, ah tentu saja. Meskipun mereka adalah saudara dekat, kakak kandung mama malah. Tetap saja aku tak mau. 
Bapak yang ada di tengah-tengah itu, akhirnya merasa jengkel karena tidak ada yang mau mengalah. tiba-tiba saja dia bekata kasar, ah tentu saja karena emang bahasa sunda yang digunakannya sunda kasar, dengan nada nyentak. Kamu tau nyentak? itu sama dengan nge gas, jadi bayangin deh memilih sunda kasar dengan nada ngegas kan gak enak banget ya. Gak ngebayangin aja udah berapa kali nunda mau masak bala-bala ini.
Aku tuh bukan tipe orang yang bisa berontak dan mempertahankan pendapat, aku akan memilih pergi jika ada dalam situasi sepeti ini. Tentu saja, setelah denger kalimat bapak aku memilih pergi ke kamar saja. Sebenarnya sudah coba mengingatkan diri untuk bisa menahan semua nya, untuk bisa menahan amarah. Setiap orang memiliki cara nya masing-masing dalam mengungkapkan amarah nya yang ingin meluap-luap bagai api tak bertepi. Aku melampiaskan semuanya dengan menangis. Hanya itu, aku takut jika harus melawan, aku takut jika harus mempertahankan pendapat di depan orantua ku dan sendirian menangis di kamar adalah satu-satu nya pelampisan aku dari kecil sampai saat ini. Sebenarnya udah sekuat tenanga untuk biasa aja, tapi tetap aja gak bisa. Aku luluh lantah karena amarah ku sendiri. 
Setelah kejadian itu pas ada mama ke kamar, mencoba membangunkan yang sebenarnya hanya pura-pura tidur aku memilih untuk tetap pura-pura pules karena dengan aku bangun pun mata ku sembab, kalo nanti ditanya kenapa, alih-alih menjawab malah nangis lagi di TKP. Padahal saat itu posisinya mama sudah beres memasak, bala-bala nya sudah selesai di buat. Kadang aku juga tidak mengindahkan bagian dari diri ku yang seperti ini, kan ujung-ujung nya nyesel, meskipun awalnya nyesek karena bapak, tetap saja harusnya aku tak seperti itu. Waktu aku di garut juga tidak banyak, lusa aku harus sudah pergi lagi ke Jakarta.

Esok nya, aku bersikap seolah tak ada apa-apa, aku juga melihat bala-bala yang sudah tak aku ingin kan lagi. Ketika berpapasan dengan bapa pun tak banyak yang aku lakukan dan bicarakan, bahkan tak ada. Reaksi aku dalam mengungkapkan amarah setelah menangis adalah aku tak mau melihat orang yang buat aku marah, alasan nya juga sama, aku takut mata ku melihat nya dengan sorot mata yang menyakitkan bapak. Bagaimana pun hari itu aku belum bisa menguasai diri ku sendiri secepat kilat. 

Tibalah aku di hari keberangkatan ku lagi ke Jakarta, Sebenarnya yang membuat berat adalah bukan hanya jarak yang akan memisahkan kami lagi. Tapi keadaan terakhir yang membuat aku semakin merasa sakit, aku kalah dengan amarah ku sendiri. Hari itu aku rasa bapak memang sudah menyadari apa yang sudah terjadi padaku. Beliau juga mau memperbaiki semua nya, selalu menegur aku dan hanya aku jawab dengan seadanya, sampai terakhir adalah ketika aku membawa barang bawaan ku keluar, bapak membawakannya. Sebelum nya dia mengeluarakan uang untuk bekal di perantauan, saat aku masih 100%  bergantung pada orang tua. Biasanya bekal yang ia berikan sebesar Rp.500.000,- hari itu aku di beri uang Rp.700.000,-. Aku menerima nya tanpa mengucapkan apapun, Maaf yaAllah aku kalah dengan amarah, aku…aku…aku anak nakal yang menyakiti hati orang tua nya.

Aku menaiki ojeg, menyalami mama dan bapak satu-satu. Hari itu aku pamit dengan amarah, tanpa ada kata yang terucap dan meanangis sepanjang jalan. Sampai hari ini aku tak menginginkan bala-bala lagi.

#Day2
#RamadhanBerkisah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar