Sabtu, 14 April 2018

Ruang di Bis 98

Aku mulai melihatnya ketika anak itu berdiri di samping kursi ku. Awalnya dia berdesus kepada ibu nya merengek supaya dia tidak bernyanyi karena aku rasa tidak mudah untuk anak umur segitu percaya diri tampil di depan umum bahkan tampil di lingkungan orang yang dia tak mengenalinya sama sekali. Meskipun enggan dia akhirnya bernyanyi dengan terus melihat ibu nya untuk memastikan lirik apa yang kemudian akan mengisi musik itu, juga sebagai pengalihan rasa malu nya dari orang-orang di sekitar, penumpang.
Bahkan saat anak-anak seusianya belajar di play grup, di ikut kan dalam beberapa les dan bimbingan belajar yang lainnya, salah satu tujuan nya untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Dia pengertian yang hanya di jelaskan dengan rasa sakit tenggorokan ibu nya bisa langsung meruntuhkan semua keraguan yang dia miliki dan mulai percaya diri, meskipun sebenarnya jika ada pilihan lain dia akan lebih memilih yang lain.
Sesekali dia harus pegangan dengan erat ke kursi sambil terus bernyanyi untuk menahan diri nya agar tidak jatuh karena bis mulai melaju kencang di jalan tol. Angin dari jendela meniupkan rambutnya. Dia tetap bernyanyi dan tabah berdiri di posisi itu, sedang aku duduk manis di sampingnya dan hanya menatap nya dalam diam.
Nasib macam apa ini? 
Apakah hanya cara seperti itu dia melawan nasib dengan segala kemampuan dan ketakmampuannya?
Saat anak-anak seusianya sedang asik bertanya tentang hal baru yang dia temui dalam kehidupan ini kepada kedua orang tua nya sambil nonton Tv atau hanya sekedar berkumpul di ruang keluarga. Justru dia harus terjebak di dalam bis dan berdiri mencoba menghibur orang-orang yang sedang dalam perjalanan menikmati lelah setelah beraktivitas dan bekerja keras, tanpa menghiraukan diri nya sendiri yang sebenarnya juga lelah dan ingin segera beranjak dari nasib ini.
Aku sangat merasa kasihan, awalnya. Tapi ku ingat dialog Jean Marais dengan Minke dalam buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer, dia bilang..

“...Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan-baiknya...... ”

Kesimpulan nya masih ada di post berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar