Sabtu, 21 April 2018

(Masih) Cerita dari Ibu Kota

Kita tidak bisa memilih akan lahir dari seorang ibu dan ayah yang seperti apa. Maka beruntunglah orang-orang yang sudah dilahirkan dengan latar belakang materi yang lebih dari cukup. Meskipun hal itu tidak bisa di jadikan alasan seseorang dalam meratapi nasib nya. Bukankah Kontradiktif jika kita membandingkan setiap anak yang lahir dan dibesarkan dari kondisi ekonomi yang berbeda? Di zaman yang serba megandalkan materi di banding rasa kemanusiaan dan empati, perekonomian keluarga sangat berpengaruh pada pendidikan anak. Se-Matre inikah ibu kota?
“..Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah mengkehendaki keburukan pada suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia....” QS. Ar-Rad ayat 11
Meskipun hidup adalah karunia Tuhan, dalam menjalani nya kita diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup apa yang kita akan kita lakoni. Hidup ini pilihan, sudah tentu. Setiap orang akan memilih dimana ia akan tinggal hanya untuk singgah atau menetap. Sebelum memutuskan ia akan mempertimbangkan setiap pilihan yang akan di ambil nya. Dari mulai dampak negatif maupun positif, sudah seharusnya siap dengan semua bayang-bayang risiko yang ada pada nya. Tidak ada manusia yang tidak mempunyai pilihan, semua tergantung pada yang menjalaninya. 
Kenapa mereka memilih tetap mengamen dan hidup di jalanan? itu juga pertanyaan yang sering ada di pikiran ku. Mustahil jika mereka tidak mempunyai pilihan lain. Juga beberapa pengamen yang lain aku melihat nya dia menggunaka cincin emas di tangan kiri nya, salah satu pengamen ibu-ibu. aku berpikir lain lagi tentang meraka, apakah mereka memilih mengamen sebagai profesi?
Di Ibu kota ini aku menyaksikan lebih banyak orang yang memberi karena ketakutan pada pengamen, sisi rasa empatinya aku tidak tahu dan biarkan itu menjadi urusan nya dengan Tuhan. Sering pengamen cowok yang mengamen tapi meminta uang dengan cara memaksa. Bahkan lebih parah nya lagi aku liat dengan mata ku sendiri ketika seorang pengamen  mengeluarkan pisau dari saku nya ke pemuda yang tidak memberi nya uang. Padahal posisi duduk pemuda itu ada di depan, tepat dua baris dari pak supir. Posisi tidak tidak menjamin keamanan jika kondisi nya sudah seperti ini. Penumpang itu lalu mengeluarkan uang sebesar Rp.2.000.- dan diberikannya, lalu pengamen itu berlih ke penumgpang yang lain. Dalam kondisi seperti ini hampir semua penumpang memberi nya uang meskipun receh. 
Setelah melihat kejadian itu jadilah aku harus selalu waspada dalam menghadapi situasi ini. Sebagai cara untuk berjaga-jaga aku selalu menyiapkan uang recehan untuk setiap pengamen yang ada di bis itu. Sempat sekali aku ketiduran dan sedang duduk di kursi sendiri, gak sadar ada pengamen dan setelah mereka selesai melakukan aktivitas menamen nya, salah satu dari mereka sengaja membangunkan ku untuk meminta uang. Kalo di pikir-pikir memang semua ini menyeramkan, tapi alhamdulillah berkat lindungan Allah aku selalu merasa di selamatkan dari hal-hal seperti itu.
Kita tidak bisa menghindari kelahiran kita ke dunia, karena kita adalah manusia pilihan. Juga kita harus siap dengan semua risiko dari setiap pilihan hidup yang kita ambil. Begitupun kematian, tidak ada yang bisa terhindar dari nya. Juga Musibah, tidak pernah ada yang tahu dari mana datang nya dan dalam kondisi seperti apa. Sebagai manusia yang punya banyak pertimbangan alangkah baik nya jika kita menghindari setiap apa-apa yang akan kita hadapi jika itu membuat kita tidak aman. Dalam kasus ini, kondisi jalanan yang tidak pernah menentu, orang-orang yang di temui setiap hari dan sebagian orang baru, juga sebagai penikmat transportasi umum dengan semua resikonya, selalu waspada adalah tuntutan yang memang selalu harus di ngat. Semoga kita semua terhindar dari orang-orang Dzalim.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar