Minggu, 08 April 2018

Cerita dari Ibu Kota

Ibu kota, aku suka... terlepas dari semua isu-isu tentang nya. Alasanya nya tak jelas, hanya saja bisa jadi karena di kota ini mimpi mulai diretas. Beberapa yang dulu nya di angan sekarang bisa dijalani, dinikmati dan pastinya di syukuri. Kehidupan kontradiktif di sini aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri tidak hanya berasal dari artikel atau siaran berita di TV. Perlahan aku mencoba memahami dan belajar dari nya. 
Aku melakukan perjalanan dari Pasar Rebo menuju Rawamangun, aku melihat dua pengamen, sebenarnya ada 4 orang pengamen yang bergantian menghibur di sepanjang jalan hanya saja ada dua pengamen yang merebut perhatian ku. Salah satu nya datang dari seorang anak perempuan yang di bawa ibunya, usia nya sekitar umur 6 tahunan. Dia menggunakan baju langsungan selutut yang di samping kanan kiri nya ada tali untuk mempercantik baju nya di belakang menjadi pita, tapi dia hanya membiarkan tali itu. Menggunakan sandal kebesaran untuk ukuran dewasa berwarna hijau tosca.  Rambut nya tipis sebahu yang di gerai. Sederhana, jika dibandingkan dengan anak-anak sebaya nya yang memilih mengucir dua rambutnya.
Hal pertama yang anak itu lakukan adalah membagikan amplop kecil kepada semua penumpang dari barisan paling depan ke belakang, kebetulan sore itu penumpang nya cukup banyak. Setelah selesai melakukan itu, dia beridiri di tengah-tengah bis sedangkan ibu nya berjarak dua kursi di belakang nya, Aku tak melihat sosok ibunya barang satu kedip pun karena posisinya di belakang ku, hanya kebetulan anak itu berada tepat di samping ku. 
Ibu nya menyalakan sound khas pengamen yang dia bawa, setelah sebelumnya menyampaikan ucapan pembuka ala pengamen..
“yaa... Assalamu’alaikum para ibu, bapak dan pak supir, selamat menikmati perjalanan Anda, ijinkan saya menyanyikan sebuah lagu.....”
Suara nya sangat pelan dan serak tapi masih bisa terdengar, tidak memungkikan untuk bernyanyi.
Jreng.... mulai lah lagu itu disetelnya.
Lagu nya lagu dangdut, aku tak mengenalinya.
Kondisi Ibu nya yang sedang gangguan tenggorokan dan kesulitan bernyanyi membuat siapa pun yang mendengar tidak menikmatinya dengan keadaan seperti itu. Di tengah-tengah jeda lagu, sang ibu meminta anak nya untuk bernyanyi. Awalnya anaknya enggan, alasannya karena tidak hafal lirik lagu nya, tapi karena ibu nya memaksa akhirnya anak itu pun bernyanyi. Dia mulai menyanyikan lagu dengan bantuan ibu nya yang meluruskan lirik lagu yang belum ia hafal betul. 
Saat dia bernyanyi ada beberapa orang yang duduk di depan menengok anak tersebut, aku tidak bisa mengartikan semua tatapan orang itu. Tatapan iba kah, mengaguminya kah, menghinakannya kah, atau hanya sekedar penarasan sosok seperti apa yang sedang bernyanyi itu. Aku yang berada di samping nya bahkan menatapnya dari awal dia berdiri di sana, dari mulai kecanggungan nya saat bernyanyi sampai dia akhirnya berani untuk bernyanyi dan menamatkan lagu itu. 

Pikiran ku saat melihat dia akan aku jelaskan di post berikutnya.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar