Minggu, 04 Februari 2018

Suara dari Rantau

Selamat malam para pejuang, malam ini langit sedang menumpahkan resah nya lewat hujan. Semoga kamu tidak. Kita harus kuat, menghadapi semua yang menghampiri, baik itu suka atau duka. Semua datang silih berganti hanya untuk mendewasakan kita yang kadang terlalu cengeng dan selalu meneriakkan bahwa hidup ini tidak adil.

Fakta nya setiap orang berjuang sesuai versi nya masing-masing, kita hanya tidak mengetahui. Bisa jadi hidup yang sedang kita jalani dan sering kita keluh kan ini adalah impian dan di inginkan banyak orang.

Sudah hampir empat tahun gue hidup di Ibu Kota, jauh dari orang tua dan berjuang. Kalo di bilang ini gak mudah, bukti nya gue sudah melewati beberapa adaptasi dan gue sudah sampe sini, dimana sebagian orang memilih untuk berhenti dan menyudahi petualangan ini. Seberat-beratnya homesick, gue juga akhirnya tetep bisa beradaptasi. Meskipun harus nahan nangis setiap kangen rumah dengan seperangkat suasana nya.

Sekarang gue sedang ada di fase lanjutan. Setelah gue mampu hidup di sini, juga harus mampu menghidupi diri sendiri. Hmm ngertikan ya maksud nya?

Sebagai anak yang tahu diri, meskipun tidak dapat di pungkiri anak adalah parasit abadi bagi kedua orangtuanya. Gue dengan apa yang bisa gue lakukan terhitung sejak bulan Agustus 2017, mencoba untuk membiayai hidup gue sendiri. Lebih tepat nya tidak meminta uang lagi ke orang tua, untuk itu gue sebisa mungkin memberikan bukti pada Tuhan untuk di mampukan dalam menjemput rezeki dariNya.

Ternyata itu semua gak gampang ya, butuh perjuangan. Hmm, sayang nya otak gue bukan otak pembisnis. Jadinya kurang jeli sama peluang bisnis. Mungkin ke depan nya mencoba belajar, pelan-pelan. Mudah-mudahan Allah SWT Ridha.

Ah iya, ternyata dalam menjalani fase ini juga kekuasaan Allah dalam mengurus mahluk nya itu luar biasa sekali, dirasakan secara nyata. Bagaimana ikan-ikan di laut tetap makan, cerita si burung yang keluar kandang nya untuk mencari makan dan pulang dengan kondisi kenyang, itu adalah contoh dan ternyata di alami gue. Rezeki itu begitu mengalir dari pintu yang kadang tidak kita sangka sebelumnya.


Berada di fase ini juga, gue sangat terhibur dengan kalimat Sujiwo Tejo yang mengatakan bahwa "Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitabnya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan".

Lalu, ada satu prinsip hidup yang harus gue Inget terus dalam rangka melewati fase ini sampai perekonomian stabil. Kalimat itu datang dari wanita terhebat di dunia. Mama bilang "Mau makan sama apapun, yang penting jangan sampe punya hutang". 

Tapi, saat ini yang beberapa kali gue lakukan adalah berbohong. Setiap mama nanya masih ada bekel (yang dimaksud adalah uang). Jawaban gue adalah "ada". Meskipun sebenarnya pas-pasan san. Maaf mah, setidak nya biarkan anak mu ini merasakan ini semua, juga menemui fakta-fakta baru dalam menjalani semua nya. Supaya bisa menghargai setiap perjuangan bapak, agar tidak menganggap enteng segala sesuatu nya. Perlahan teteh juga merasakan nya mah. Permintaan teteh sampe kapan pun gabakalan berubah, yaitu do'a nya mamah. Berhenti bilang "asalkan teteh bahagia...". Mulai sekarang coba mamah ikuti juga kata hati mamah, ingin nya apa, suarakan. Supaya  teteh bisa tau, bisa berusaha mewujudkan itu.
Teteh sayang mamah, bapak, Shani 💞.
Love you 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar