Jumat, 22 Desember 2017

Catatan Akhir Tahun

Tidak terasa kita sudah berada di minggu terakhir bulan desember, tinggal menghitung hari kita akan menjajaki petualangan baru di tahun 2018. Sebelum melangkah menuju destinasi baru, gue mau flashback ke belakang untuk melengkapi perjalanan dalam petualangan ini. Bagi gue sendiri tahun 2017 ini memberikan kesan lebih dari biasanya, di banding tahun sebelumnya. Bukan merupakan pencapaian target tapi malah gue merasa ada banyak hal yang gue lalui dengan kegagalan. Gue menyebutnya GAGAL, pada saat itu.
Di awal tahun pada bulan Januari itu adalah kegagalan pertama yang gue alami. Gue merasa gagal karena harus menerima kalo UNJ putri hanya mendapat peringkat 3 di Kejuaraan Indoor tertua di negeri ini, Invitasi Hoki Ruangan Perguruan Tinggi (IHRPT) ITB. Kami kalah di babak semi final lawan UPI, lewat Finalty Shout out. Terlebih setelah nya gue merasa terus mimpi buruk kalo inget kenapa waktu itu gak ngambil kesempatan untuk menjadi salah satu penembak nya. Hari itu gue gak menangis, tapi jujur aja sampai dua minggu kedepan nya terus mimpi buruk gara-gara itu.
Setelah melewati event itu ada Invitasi Hoki Ruangan Mahasiswa Se-DKI Jakarta, kami juga kalah lawan STEI di final dan harus menerima hasil sebagai Runner Up di kejuaraan yang hadiah nya paling besar se-Indonesia itu. Hari itu gue juga tidak menangis, hanya saja cemberut dan mulai merasa muak dengan semua kekalahan. Apakah sampai di sana? TIDAK.
Tentu saja bekerja keras, latihan, latihan, latihan. Itu yang gue lakuin di hari Selasa, Kamis, Sabtu dari sore sampai larut malam. karena bukan hanya gue yang ingin menang, tapi semua nya juga bertekad sama untuk menjadi pemenang. Target berikut nya setelah itu bukan main-main, karena kita akan bertanding di kandang sendiri yang arena nya setiap jengkal sudah sering kita jajaki. Target Juara sudah di depan, waktu itu gue berpikir untuk tidak gagal lagi. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, yang detail cerita nya bisa di baca disini.
Hari itu gue menangis hebat, gue bertanya tentang “KENAPA”. Setelah beres pertandingan itu gue tak peduli apapun, yang bisa gue lakukan detik itu juga adalah menangis. Marah adalah yang gue lakukan setelah nya, gue marah pada semua nya termasuk pada diri gue sendiri dan yang gak bisa gue tahan saat itu adalah gue juga marah sama Risma sama Rika dan mengungkapkannya. Hari itu adalah bagi gue kekalahan untuk semua hal, gue juga kalah mengendalikan emosi gue, dan tenyata hari berikutnya yang terjadi adalah gue marahan sama risma sama rika, satu sama lain saling diam, saling sibuk dengan pikiran nya sendiri dan itu berlangsung lama.
Marahan itu adalah marahan terbesar yang ada di sepanjang persahabatan kita, lengkap sudah semua nya. Gue merasa bahwa “Kenapa ini semua terjadi” dan gue masih keras mencari alasan nya, yang tidak gue temukan juga.
Semua nya perlahan membaik ketika gue mencoba mendamaikan diri gue sendiri lalu meminta maaf dengan semua keberanian yang gue punya, padahal hari itu gue merasa sangat canggung dan malu sama seperti pertama kali mengenal mereka, hari itu juga gue gak menemukan jawaban dari permintaan maaf gue, hanya saja setelah nya suasana antara kita perlahan membaik. 
Hal berikutnya masih sama tentang hoki dan sebuah persahabatan, kita semua nya mencoba bangkit dari semua keterpurukan, kita akhir nya berhasil memenangkan gelar JUARA di Invitasi Hoki Ruangan (IHR) ISTN yang bisa di baca disini. Lalu gue juga ke Malaysia (lagi)  yang kisah nya udah gue tulis disini. Setelah itu berturut-turut event yang gue ikuti bahkan gue harus memilih diantara dua event yang cerita nya gue tuangkan disini.
Tahun 2017 ini titik balik gue dalam menyikapi segala sesuatu nya dan tentang kenapa semua itu terjadi jawaban nya gue temukan ketika gue naik gunung, ke Gunung Gede, yang sebenar nya kisah ini belum gue share di blog, hanya menguap di local disk D laptop.
Entah kenapa harus gue temukan ketika gue naik gunung tapi pelajaran nya banyak banget yang bisa gue ambil, sangkut pautnya sama hidup yang gue jalani. Selain itu gue jadi tau siapa diri gue yang sebelumnya belum pernah gue sadari.
Perjalanan menuju puncak gunung gede saat itu memberikan kesan yang mendalam, selain karena itu adalah pendakian pertama seorang Eva Suryati. 
Gue selalu ingin berada di barisan paling depan, karena tujuan gue saat itu adalah puncak Gunung Gede. Jujur aja gue sangat tidak sabar dengan apa sensasi yang di suguhkan puncak Gede itu. Tapi, ternyata perjalanan nya jauh, terjal, dan juga tidak sampe-sampe. Gue mengumpat dalam hati tentang “Kapan gue akan sampai puncak”.
Hari itu bukan Cuma rombongan Perkumpulan Hoki UNJ yang nanjak lewat jalur itu. Tapi banyak juga orang yang nanjak dan beberapa malahan sudah turun. Meskipun kita tidak saling mengenal tapi selalu bertegur sapa dengan semua orang yang kita temui, bebapa menyemakati untuk tetap mendaki. Beberapa orang yang bilang kalo naik gunung itu jangan kecepetan jalan nya yang penting continu. Sesekali berhenti boleh, tapi jangan kelamaan karena nanti irama nya hilang dan jangan lupa perhatikan sekeliling, jangan sampai melewatkan apa yang di suguhkan alam, satu kata “Nikmati”.
Gue mencoba itu, dan ternyata benar. Gue terlalu fokus ke puncak sampai gue melewatkan banyak hal yang gue lalui, padahal hidup ini bukan hanya tentang bagaimana sensasi berada di puncak itu tapi adalah pelajaran yang bisa kita ambil ketika mencapai puncak itu.
Lalu gue mencoba menikmati perjalanan itu, mencoba menerima semua keindahan yang alam suguhkan ketika gue datang. 
Lalu gue sadar dalam hidup yang gue jalani kadang gue kurang menikmati sebuah perjalanan karena selalu fokus dalam satu hal. 
Tentang jawaban “KENAPA”  itu?
Gue jadi tau kalo gue adalah manusia yang terlalu mengatur Tuhan, padahal dalam agama yang gue anut, gue harus beriman pada qada dan qodar, pada takdir nya Allah. Gue kadang sulit untuk menerima segala sesuatu yang terjadi dalam hidup gue tapi tidak gue ingin kan. Padahal Tuhan punya maksud sendiri untuk mendewasakan gue lewat perjalnan yang harus gue lalui. Terlebih gue suka atau tidak suka, semua nya akan tetap terjadi. Sebelum melangkah lebih jauh, gue harus menerima semua kegagalan dan seperangkat rasa yang dimiliknya sebagai sebuah pelajaran yang bisa gue pahami kemudian tentang semua yang telah terajadi.
Bang Izza bilang, “Kalo untuk hal kecil saja kita sudah menyalahkan Allah bagimana dengan hal besar lain nya, padahal ini baru segini.... di luar sana masih banyak yang lebih dari ini, sabar.”
Jadi intinya tentang semua kegagalan yang gue katakan di awal itu bukan hanya tentang kegagalan tapi itu adalah tentang cara gue belajar MENERIMA, karena dari penerimaan itu kita bisa jadi paham banyak hal yang nanti nya tetap akan menjadi bagian dalam hidup kita yang akan kita syukuri karena semua itu terjadi. Allhamdulillah, jangan lupa bersyukur..
Allhamdulillah juga akhir nya catatan akhir tahun ini sudah selesai, semoga ke depan nya semakin baik menurut Allah. Aamiii allahuma Aaamin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar