Sabtu, 03 Juni 2017

Pengaruh Lingkungan Terhadap Keputusan Melanjutkan Study

Waktu itu malam gelap, saat semua orang memilih terlelap aku mencoba mulai membuka kata di depan orang tua ku. Mereka harus tau alasan kuat aku ingin kuliah. Aku memilih untuk memulai perbincangan nya dengan pertanyaan yang aku ajukan ke bapak. 
"Pa menurut Bapak sodara-sodara mamah gimana orang nya?" tanya ku
Bapak diam tanpa reaksi apapun, Dia belum mencerna pertanyaan ku. 
"Kakak-kakak mamah.." tambah ku.
Hening...
Bapak diam dan mulai berpikir,
"Beda-beda..." ungkap nya
Merasa tidak puas dengan jawaban itu, aku memutuskan langsung bercerita tanpa ba..bi..bu lagi.
Ketika aku kelas 8 SMP belum lama dari meninggal nya almarhumah Ema (ibu dari mama) mulai ada pembicaraan tentang rencana pembagian harta warisan. Aku sama sekali tidak mengerti tentang hal itu karena waktu itu aku juga tidak terlalu memusingkannya, tapi setelah aku perhatikan lagi ternyata ada yang kurang beres. Kejadian ini posisinya masih ada Abah (bapak dari mama), dengan kondisi abah yang sudah jompo bahkan sudah susah melakukan apapun karena keterbatasannya tidak bisa melihat sejak kurang lebih 8 tahun di deritanya. Jika harta waris mau di bagikan apa kabar abah? Hanya itu tanya ku dalam benak.
Berkat semua percekcokan yang ada akhir nya di bagilah Harta warisan itu sesuai dengan aturan agama lslam dengan mendatangkan ahli nya, perkara ada yang setuju dan tidak setuju dengan dibagikannya warisan itu tetap saja 8 orang anak Ema sama Abah menerima nya. Aku kecewa.... Jujur saja sangat menyesalkan hal itu meskipun itu hak dari mereka sebagai anak-anak nya, waktu itu usia ku 14 tahun dan belum bisa menyampaikan apa yang ada di pikiran saat itu, bahkan sekalipun aku mengungkapkan nya mana mungkin mereka mendengarkan nya.
Perkara warisan ini sangat panjang sekali prosesnya, padahal harta yang dibagikan tidak seberapa jika di bandingkan dengan Ema dan Abah mengumpulkannya. Aku benar-benar kepo waktu itu tentang pembagian Harta waris, sampai aku sangat kaget ketika mendapat pemahaman bahwa jika mamah dan bapak hanya memiliki 2 orang anak perempuan maka paman bisa menggugat hak waris karena ada hak nya. Aku menelan mentah statement itu sampai akhirnya aku berasumsi bahwa harus ada harta warisan yang bermanfaat dan bikin aku berkah dunia dan akhirat, yaitu ilmu. Orangtua ku dua-dua nya lulusan SD, memang bukan hal yang tabu bahwa mereka juga bisa memberikan ilmu hidup kepada ku. Tapi aku butuh sesuatu yang lebih dari mereka, lebih dari sodara-sodara mama supaya kelakuan nya tidak sama seperti mereka. Dengan aku memilih melanjutkan pendidikan aku sangat merasa di perjuangkan banget oleh ke dua orangtua ku, mereka support aku lebih dari kemampuan mereka dan aku bangga. Mereka sudah menaruhkan segalanya untuk ku, untuk pendidikan ku, untuk hidup dan kehidupan ku, lalu setelah semua yang telah mereka lakukan apakah aku masih pantas mengugat hak waris nanti nya?
Aku semakin berkaca menyelami diri dan pikiran dan jawaban nya sangat tidak pantas, bahkan jika Allah Ridho aku mau memberi mereka dan memperjuangkan mereka lebih dari batas apa yang aku mampu. Bagi mereka aku bukan hanya tabungan mereka di dunia tapi juga di akhirat, mereka akan dimintai pertanggungjawaban nya atas diriku sebagai anak nya, mereka bukan hanya menanggung beban di dunia saja tapi juga di akhirat kelak. Atas semua tanggungan itu apakah aku masih mau mengugat hak waris? Tidak.. Aku tidak mau, sungguh...
Jika pun harus ada bagian nya aku akan lebih memilih menginfak kan dan membuatnya bisa berharga supaya bisa mengalir juga pahala untuk mereka.
Itu salah satu alasan kenapa aku harus kuliah, supaya aku bisa jadi orang yang berilmu dan mengamalkan ilmu, supaya aku bisa lebih merasakan bahwa aku sebagai anak sangat tidak pantas menggugat hak waris atas semua pengorbanan kedua orang tua ku.
Lalu alasan ke dua muncul ketika aku umur 15 tahun kelas  9 SMP ketika itu aku memaksa kedua orang tua supaya aku bisa melanjutkan sekolah ke SMA.
Kemarin pikiran ku sangat sempit sekali, yang ada dalam pola pikir ku seputar hidup hanya ketika aku lulus sekolah maka aku akan bekerja selama beberapa tahun lalu aku bertemu jodoh dan menikah, setelah itu aku berhenti bekerja dan hanya mengurusi anak yang mulai tumbuh dan berkembang, aku yang ditinggal suami ku mencari nafkah sama seperti mama yang selalu ditinggal bapak karena harus kerja. Aku tinggal di kampung suami ku tinggal di kota dan hanya pulang dua minggu sekali sampai satu Bulan sekali. Kenapa aku berpikir seperti itu?
Karena pola hidup lingkungan ku pun seperti itu. Tapi mereka langgeng dalam berumah tangga, entah resep nya apa.
Sampe suatu ketika aku mendapat hal baru ketika melihat perceraian antara salah satu saudara ku, aku juga melihat istri yang di tinggalkan suami nya karena meninggal, aku juga melihat seorang istri yang tidak bisa bilang "tidak" sama suami nya, aku melihat seorang istri bergantung banget sama suami nya akhirnya suami nya semena-mena melakukan apapun dan aku melihat mereka tidak bahagia.
Akhirnya aku menemukan hal baru dalam hidup bahwa aku harus punya kemampuan lebih untuk aku bisa bertahan hidup. Aku harus di hargai dengan apa yang aku miliki karena aku berhak dihargai sebagai manusia. Aku melihat bahwa profesi guru adalah aktivitas paling cocok di emban bagi seseorang yang ingin menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karir karena kerja nya hanya 8 jam per hari, selain itu ketika suami berangkat kerja dan anak-anak sekolah kita juga berangkat terus ketika anak pulang sekolah kita juga pulang dan sebelum suami pulang kerja kita sudah ada di rumah.
Ternyata bener ya ungkapan "perempuan lebih dewasa 10 tahun dari umur nya jika dibandingkan dengan lelaki."
Itu pikiran aku waktu umur 15 tahun lho, mikir nya udah suami sama anak aja, hahaha.
Lanjut ke point 3 tentang alasan kenapa aku harus kuliah, salah satu nya karena aku mendengar hadist tentang kewajiban menuntut ilmu...
"Menuntut ilmu wajib bagi kaum muslimin dan muslimat"
"Tuntutlah ilmu dari mulai buaian sampai liang lahat"
Meskipun ilmu itu bisa kita dapat dimana sana dan kapan saja juga Sumber nya dari mana-mana tapi karena semangat dalam mencari ilmu kurang maka butuh rangsangan, dan menurut ku pendidikan formal salah satu rangsangan mencari ilmu yang terstruktur karena ada alur dan tahapannya.
Mendengarkan aku yang bercerita seperti ini lalu bapak menambahkan bahwa alasan kenapa sodara-sodara mamah begitu salah satu nya karena mereka butuh. Juga menurut nya bahwa dalam menjalani kehidupan apapun yang dilakukan yang penting jadi orang jujur, bener sama baik.
Malam itu aku mendapat pelajaran lagi, setelah mengakhiri perbincangan itu aku memutuskan untuk lelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar