Jumat, 05 Mei 2017

Ketika Aku Patah Hati

Jum'at sore di akhir bulan april kemarin memberi luka yang sulit aku ungkapan sampai detik kau membaca ini. 
Bunyi peluit tanda pertandingan di mulai, ini adalah soal harga diri dan main di kandang sendiri. Optimisme untuk menang begitu ku genggam dalam menghadapi partai Puncak di Kejuaraan Hockey Ruangan Mahasiswa antar Perguruan Tinggi se-Indonesia piala Bergilir Menpora RI ke-12 2017.
Aku begitu menikmati game di sore itu, setiap sentuhan bola di kepala stik nya, moving, membongkar pertahanan lawan, melewati lawan, pergantian pemain. Aku begitu merakasan solid nya tim waktu itu, menjaga setiap lini pertahanan, juga mengalirkan bola untuk menembus pertahanan lawan. 
Kami hampir menguasai permainan, terus mendobrak pertahanan lawan dengan passing game dan beberapa melewati nya dengan individual skil, banyak shoot ke gawang tapi sial nya eksekutor kami terlalu cepat lepas bola saat shooting, alhasil tidak ada gol yang tercipta.  
Dari beberapa penyerangan yang dilakukan kami juga banyak mendapat Short corner dan hanya satu yang tembus,  kami memimpin dengan skor 1-0 di babak pertama. 
Menuju babak ke-2 kami terus mencoba mencari cara membongkar pertahanan lawan dan penyerangan mereka tidak ada yang sampai ke garis circle karena penyerangan mereka bisa di cut oleh pemain bertahan kami. 
Hingga menuju akhir babak, pemain kami melakukan kesalahan di circle yang menyebabkan short corner, ini adalah yang pertama untuk mereka. Lawan menggunakan pola langsung dan shooting bola bawah. Bola nya pelan tapi mengenai ujung kaki pemain kami yang menyebabkan bola itu naik dan masuk gawang tepat di sudut kanan kiper. Advantage utuk lawan dan itu sah di katakan sebagai gol. Skor antara UNJ A VS Unnes 1-1, dan tak ada perubahan sampai bunyi peluit panjang. Lalu apa yang dilakukan setelah nya? 
Pelatih Daarul dan Iskandar Zulkarnaen (izza) akhirnya menunjuk Ziah, Eva (saya), dan Putri karena memang saat itu kami bertiga yang menyatakan siap. 
Putaran pertama skor masih imbang 3-3. Selanjutnya adalah sudden death.. 
Aku menjadi yang pertama sore itu..  Aku membawa bola ke arah kiri dua langkah dan mematahkan nya ke kanan,  lalu di roll sedikit dan shoot..... Naas....  Bola itu mengenai tiang kiri gawang. Aku masih berusaha karena waktu ku hanya 6 detik dan ketika bola itu aku shoot lagi waktu ku sudah habis, bola itu masuk ke gawang ketika peluit tanda selesai di bunyikan, tapi itu bukan satu kebuntuan karena Unnes pun gagal. 
Berikut nya setiap tim harus ganti eksekutor dan yang siap di putaran ke 2 itu Risma,  Rika dan Rayhan. 
Hanya Rayhan yang berhasil, tapi itu juga bukan kebuntuan karena dari lawan pun sama hanya satu orang yang berhasil. 
Lanjut putaran ke-3, Nina, Dita, da Resthu menyatakan siap. 
Dita berhasil, tapi pemain unnes berhasil. 
Dan terkahir Resthu gagal dan pemain Unnes berhasil. Nina belum sempet ngambil karena kami sudah KALAH. 
Unnes jadi Juara! 
Sore itu aku benar-benar mati rasa, merasakan jatuh sejatuh jatuh nya, merasakan sakit sesakit sakit nya. Ini seperti mimpi buruk di antara mimpi-mimpi besar. 
Aku benar-benar tak bisa berpikir apa-apa selain kami KALAH. 
Ramai orang berfoto untuk mengakhiri kejuaraan ini, tapi aku tidak... 
Banyak yang masih bisa becanda ini dan itu,  aku tidak.. 
Banyak yang makan dengan lahap, aku tidak... 
Banyak yang ketawa sana sini, aku pun tidak. 
Aku sibuk dengan diri ku sendiri,  banyak pertanyaan yang muncul di pikiran ku setelah itu, diantara nya.. 
Kenapa...... 
Kenapa..... 
Kenapa...... 
Kenapa..... 
Kenapa....... 
Kenapa....... 
Apa yang salah...?
Apa yang salah...? 
Apa yang salah...? 
Entah lah.... 
Aku mengakhiri hari itu dengan diam, aku tidak mau melakuan apapun, 
Tidur menggunakan kaos tim dan manset yang sama, luka-luka di lutut ku aku biarkan.. 
Tidur pun masih ke bawa mimpi, kepikiran terus tentang kenapa..... Kenapa.... Kenapa... Kenapa.. dan kenapaaaaaaa? 
Ini adalahan ketika aku patah hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar