Sabtu, 04 Maret 2017

Realita Anak Bidikmksi

Apa kamu seseorang yang sedang menempuh study di luar kota?
Jika 'ya' itu artinya sama dengan ku.
Apa kamu anak rantau yang jauh dari orang tua?
Jika 'ya' selamat.... Karena kamu satu tipe dengan ku.
Apa kamu juga seorang mahasiswa yang kuliah karena beasiswa?
Jika 'ya' itu tanda nya luar biasa karena kamu satu nasib dengan ku.
Biar ku kebak, jangan-jangan beasiswa yang kamu dapat juga Bidikmisi?
Jika betul 'ya'.. Itu hebat, karena nya "mari bersama dan berprestasi".

Datang dengan sebongkah mimpi dan benang rajutan asa, menjalani dengan jerih dan payah.

Menjadi bagian dari orang yang sangat beruntung bisa menikmati program pemerintah dan di biayai oleh negara sangat luar biasa. Saya tidak pernah menyangka bahwa jalan Tuhan itu sangat panjang dan lebar di saat saya pesimis menghadapi jalan yang mentok dan gelap. Bidikmisi adalah jembatan saya menuju pintu-pintu langit yang jauh dan tinggi untuk mencapi mimpi-mimpi. Di saat saya harus ketar ketir merasakan dilematis yang sangat menyita waktu dan pikiran ternyata program pemerintah yang satu ini sangat memberikan optimisme yang tidak pernah saya bayangkan sebelum nya.
Sekarang udah menginjak semester 6 dan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di ibu kota. Selama 6 semester atau 3 tahun juga kuliah yang saya jalani di biayai oleh pemerintah melalui jalur beasiswa tertinggi harga nya di Indonesia.
Mengapa dikatakan beasiswa tertinggi? Karena penerima nya sudah di tanggung bayaran UKT tiap semester plus uang makan setiap bulan nya Rp. 600.000,- dan benar-benar sangat membantu. "Maka nikmat Tuhan Mu yang mana lagi kah yang engkau dustakan" 
Memang bukti nyata bahwa beasiswa bidikmisi adalah beasiswa terbesar. Namun apa kabar bagi mahasiswa yang memilih tinggal di ibu kota dengan biaya hidup Rp.600.000,- /bulan nya?
Apa kabar mahasiswa bidikmisi yang orang tua nya tidak memiliki pekerjaan tetap?
Kita harus menyimak cerita realita anak bidikmisi di bawah ini..!

Sebut saja si Aku. Kuliah di ibu kota memilih universitas negeri yang ada di kota metropolitan itu. Lahir dari si Ibu rumah tangga yang kadang suka ada Job tambahan mencuci baju orang berduit samping rumah nya, juga beasal dari benih seorang ayah yang bekerja sebagai buruh bangunan di kota kembang Bandung. Tinggal di kota yang berbeda adalah tantangan bagi si Ayah dan si Ibu, mengingat harus nya bekerja keras untuk menghidupi keluarga nya yang di karuniai 2 orang anak yaitu si Aku dan si bungsu.
Terpaut umur yang cukup jauh sekitar 9 tahun membuat si Aku punya keputusan untuk meneruskan study nya dan mewujudkan cita-cita nya. Alasan nya simple karena si aku mengikuti program bidikmisi "jadi si ibu dan si bapak tidak usah mengeluarkan biaya untuk kuliah si Aku". Tak tanggung, si Aku memilih kuliah di ibu kota dengan semua isu metropolitan nya.
Semester pertama.....
Uang bidikmisi belum pasti cair jadi untuk sementara biaya kost dan biaya makan minta dulu si Ibu dan si Ayah. Kedua manusia yang lahir di tahun 70 han itu tidak terbiasa mengirim uang lewat ATM, mesin canggih guna transaksi yang di ciptakan untuk mempermudah itu justru mempersulit bagi si Ayah dan si Ibu karena setiap mau ngirim uang harus berkoar minta tolong dulu ke tetangga, sedangkan jarak antara mesin canggih dengan rumah lumayan jauh.
Menuju semester 2...
Pucuk di cinta ulam pun tibaaaa..
Uang bidikmisi cair...!
Uang bidiimisi cair...!
Ini adalah kali pertama nya si Aku megang uang Rp.3.600.000,- karena uang bidikmisi yang cair untuk 1 semester full.
Karena si Aku belum punya handphone canggih untuk komunikasi dengan semua teman baru nya yang mayoritas pengguna aplikasi chating itu, akhir nya si Aku memutuskan untuk membeli handphone canggih itu supaya dengan mudah bisa menghubungi teman-teman nya dan dengan mudah mendapatkan informasi perkuliahan.
Handphone canggih pertama yang di pilih nya adalah Smartphone seharga Rp.1.100.000,- yang dia beli di pusat elektronik tepat nya di daerah grogol.
Satu lagi kabar gembira nya adalah berarti dia ga usah minta duit sama si Ayah dan si Ibu lagi di kampung. Itu kabar gembira yang luar biasa...
"Meskipun belum bisa ngasih uang ke orang tua tapi minimal tidak terus meminta ke orang tua" imbuh nya.
Setelah semester 2 dilewati dengan mulus, tiba lah si Aku di semester 3. Sebagai anak bidikmisi yang di tuntut untuk mendapat ideks prestasi 2,75 setiap semesternya tidak lah berat. Dibuktikan dari setiap semester pencapain indeks prestasi nya lebih dari 3. Masalah keuangan? Jangan di tanya lagi karena fase di semester 3 ini sangat aman. Mengingat bahwa uang bidikmisi cair dengan tepat waktu, yaitu di minggu pertama setiap bulan nya dan ini sangat memudahkan untuk mengelola uang.
semester 3 berakhir maka berakhir pula masa aman, karena menginjak semseter 4 ternyata uang bidikmisi tidak mulus, kadang uang nya cair per satu semester sekali. Artinya kebingunan mulai melanda lagi karena selama 6 bulan itu uang dari mana untuk bisa buat makan dan biaya hidup lainnya.
Apalagi yang menjadi sorotan adalah ternyata uang sewa kost naik menjadi Rp.350.000,- mungkin jika di bandingkan dengan mahasiswa bidikmisi yang tinggal di rumah orang tua nya bisa lebih save money karena toh ga perlu mikirin uang sewa kost dan uang makan di tambah lagi uang yang cair sekali nya cair langsung banyak sampe Rp.2.400.000,- itu sih udah kaya menang kuis lotre.
Beda dengan cerita si Aku maka ketika uang bidikmisi nya sudah cair dipastikam bahwa uang yang Rp.2.100.000,- untuk bayar sewa uang kost dan sisanya Rp.3.00.000,- uang segitu cukup untuk makan selama satu semester? TIDAAAAAAAAAK! Lalu solusi nya bagaiamana? Harus nya ya KERJA..KERJA..KERJA... buat bantu-bantu biaya hidup. Sayang nya si Aku sampe saat ini belum menemukan pekerjaan nya, banyak dugaan tidak dapat nya pekerjaan salah satu nya karena so sibuk, ikut organisasi, ada latihan rutin juga, FYI si aku ternyata atlet kampung dulu nya dan sekarang waktu tinggal di kota pun tetep jadi atlet, tepat nya adalah atlet kampungan. Cabang olahraga? Emh pokok nya atlet aja, urusan dia kalo soal cabang olahraga nya apa.
Menginjak semseter 5 ternyata keadaan bulum berbalik bahkan semakin mencekik, akibat bergabung di beberapa organisasi otomatis output juga semakin meningkat. Jangan so nebak.. nebak.. karena keadaan masih sama uang bidikmisi hanya hadir saat pergantian semester atau 3 bulan sekali, tapi tetap saja seperti jaelangkung datang nya tanpa di undang.  Giliran di tunggu-tunggu malah ga da, giliran di biarin malah dateng (alhamdulillah, ini yang bikin enak plus gereget). Lalu dari mana selama ini buat nambal kebutuhan si Aku itu? Simple jawab nya karena dia menarik kata-kata nya waktu di semsester 2, fakta nya di semester ini dia sangat begantung banget sama orang tua nya. Entah jalan nya dari mana tapi yang pasti adalah "orang tua merupakan manusia teramanah bagi anak nya" . Mengapa demikian
Bermula dari Allah yang tidak akan memberikam rizki ke umat nya berupa kekurangan karena janji Allah dalam ayat nya bahwa Allah akan memberikan rezeki ke hamba nya dengan cukup atau lebih,  dan ternyata orang tua menjadi jakan Tuhan lagi untuk menyampaikan rezeki buat si Aku. Tidak ada kata kekurangan, itu pun yang dirasakan si Aku dalam menjalani hari-hari nya.


Itu lah cerita si Aku yang sudah sama-sama kita simak. Gimana? Ada pendapat? (tuliskam di kolom komentar).
Tidak terhitung rezeki yang kita dapat kan tapi kewajiban kita adalah tetap menyukuri berapa pun itu karena Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan dan kita ingin kan. Harus selalu di garis bawahi bahwa bentuk rezeki itu tidak hanya berupa uang atau materi tapi juga sahabat yang baik, jalinan ukhuah antar muslim, keluarga yang sangat sayang kepada kita, kejujuran seorang teman, kesehatan, juga kebahagiaan. Semoga kita termasuk golongan kaum yang pandai bersyukur.

2 komentar:

  1. Kasih tau sama si aku, hidup itu tetep harus disyukuri dan jangan diratapi, harus tetep semangat ��

    BalasHapus
  2. Siap bang, makasih heeheh...
    Nanti Eva bilangin sama si aku,
    Abang perhatian oge nya ka si aku, wkwkwk

    BalasHapus