Sabtu, 30 Januari 2016

Sporitivas fakta bukan kata

Sportivitas adalah sikap adil (jujur) terhadap lawan, sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri, kejujuran, kesportifan. Namun itu hanya pengertian sportivitas menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kenyataan dalam praktek dan aplikasi nya tidak mudah diungkapkan dengan kalimat sederhana itu.
Seperti yang terjadi pada pageralan agenda rutin tahuan Perkumpulan Hockey UNJ yaitu event INHRP (Invitasi Nasional Hockey Ruangan Pelajar) ke 6 2016 ini yang diselenggarakan pada tanggal 25 s/d 29 januari 2016 ini sangat menuai banyak kontroversi, nampak nya kata sportivitas itu di anggap sepele oleh beberapa pihak. Pada pegelaran event ini seperti yang sering dijadikan kalimat terakhir dan penutup sambutan dari ketua panitia atau tamu undangan yang memeberi sambutan yaitu kata "Jungjung Tinggi Sportivitas" hanya kalimat sepele untuk menutup sambutan tanpa maknai dari kata sportif itu sendiri.
Panitia pada INHRP ke 6 ini bisa di bilang sangat tegas saat harus men diskualifikasi sekolah yang menjadi peserta pada event besar ini. Tak tanggung panitia mendiskualifikasi satu tim putra dan satu tim putri dengan sekolah yang sama. Tindakan ini berdasarkan penyelewengan, yang berupa tidak terpenuhinya persyaratan untuk mengikuti kejuaran dan mengikutsertakan alumni sekolah tersebut untuk bermain di event pelajar ini. Sangat tidak masuk akal jika harus melibatkan alumni yang jelas bukan pelajar lagi di event antar pelajar.
Untuk selanjutnya akibat dari tindakan panitia tersebut menuai berbagai macam kontroversi yang pro dan kontra. Alami memang jika harus terjadi seperti itu namun di sisi yang lain panitia jadi akan lebih selektif untuk pagelaran berikutnya dalam penyelenggarakan event besar antar pelajar ini. Banyak orang yang kurang paham dan mengerti tentang hal ini yang langsung men judge pihak panitia dengan melontarkan rasa iba nya kepada pihak yang di diskualifasi lewat komentar jejaring sosial facebook yang kurang lebih menyatakan kalimat "sabar ya", "semua pasti ada balasannya". Ironis memang melihat kata-kata mulia harus dilontarkan kepada pihak yang melakukan penyelwengan dan atas rintihan di status facebook yang membicarakan keputusan panitia.
Anggapan panita tidak adil sangat mencuat dari berbagai banyak pihak, yang pada kenyataannya pada proses pertandinga berlangsung lumayan banyak juga keluhan para peserta atau manager dan pelatih tim yang men judge tim lain ada pemain palsu (baik itu beda sekolah, atau hal yang sama dengan yang sebelum nya yaitu menyertakan alumni). Pihak panita sangat terbuka sekali atas bentuk protes dan semacamnya dengan catatan disertai bukti yang valid agar panitia bisa cepat menindaklanjuti kasus tersebut. Kembali lagi ke sportivitas bahwa pada kenyataan nya tim yang sporif lah yang nantinya akan menang. Sangat luas memang makna dari satu kata sportif itu, apalagi ini adalah event antar pelajar yang memang seharunya diikuti dengan penuh rasa sportivitas karena ini nantinya akan menjadi bentuk pemdidikan karakter pada atlet yang kedepannya akan menjadi generasi muda yang membawa perubahan pada negeri yang labil ini. Sederhana memang namun kenyataan nya membuktikan bahwa untuk menang kaum tertentu menghalakan segala cara termasuk mengabaikan dan menjatuh rendahkan nilai sportivitas.
Mengabaikan sportivitas sejati nya mengurangi nilai dan rasa hormat terhadap dirinya sendiri yang sudah mengorbanakam segalanya untuk berlatih, namun pas tiba waktunya untuk unjuk keterampilan justru malah mengabaikan sportivitas. Urusan menang dan kalah sudah biasa dalam pertandingan, namun sejati nya tim yang kalah dan menang dengan terhormat adalah tim yang terhormat sesungguhnya. Dengan sportivitas lah sebuah tim menjadi sangat terhormat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar