Minggu, 04 Februari 2018

Suara dari Rantau

Selamat malam para pejuang, malam ini langit sedang menumpahkan resah nya lewat hujan. Semoga kamu tidak. Kita harus kuat, menghadapi semua yang menghampiri, baik itu suka atau duka. Semua datang silih berganti hanya untuk mendewasakan kita yang kadang terlalu cengeng dan selalu meneriakkan bahwa hidup ini tidak adil.

Fakta nya setiap orang berjuang sesuai versi nya masing-masing, kita hanya tidak mengetahui. Bisa jadi hidup yang sedang kita jalani dan sering kita keluh kan ini adalah impian dan di inginkan banyak orang.

Sudah hampir empat tahun gue hidup di Ibu Kota, jauh dari orang tua dan berjuang. Kalo di bilang ini gak mudah, bukti nya gue sudah melewati beberapa adaptasi dan gue sudah sampe sini, dimana sebagian orang memilih untuk berhenti dan menyudahi petualangan ini. Seberat-beratnya homesick, gue juga akhirnya tetep bisa beradaptasi. Meskipun harus nahan nangis setiap kangen rumah dengan seperangkat suasana nya.

Sekarang gue sedang ada di fase lanjutan. Setelah gue mampu hidup di sini, juga harus mampu menghidupi diri sendiri. Hmm ngertikan ya maksud nya?

Sebagai anak yang tahu diri, meskipun tidak dapat di pungkiri anak adalah parasit abadi bagi kedua orangtuanya. Gue dengan apa yang bisa gue lakukan terhitung sejak bulan Agustus 2017, mencoba untuk membiayai hidup gue sendiri. Lebih tepat nya tidak meminta uang lagi ke orang tua, untuk itu gue sebisa mungkin memberikan bukti pada Tuhan untuk di mampukan dalam menjemput rezeki dariNya.

Ternyata itu semua gak gampang ya, butuh perjuangan. Hmm, sayang nya otak gue bukan otak pembisnis. Jadinya kurang jeli sama peluang bisnis. Mungkin ke depan nya mencoba belajar, pelan-pelan. Mudah-mudahan Allah SWT Ridha.

Ah iya, ternyata dalam menjalani fase ini juga kekuasaan Allah dalam mengurus mahluk nya itu luar biasa sekali, dirasakan secara nyata. Bagaimana ikan-ikan di laut tetap makan, cerita si burung yang keluar kandang nya untuk mencari makan dan pulang dengan kondisi kenyang, itu adalah contoh dan ternyata di alami gue. Rezeki itu begitu mengalir dari pintu yang kadang tidak kita sangka sebelumnya.


Berada di fase ini juga, gue sangat terhibur dengan kalimat Sujiwo Tejo yang mengatakan bahwa "Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitabnya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan".

Lalu, ada satu prinsip hidup yang harus gue Inget terus dalam rangka melewati fase ini sampai perekonomian stabil. Kalimat itu datang dari wanita terhebat di dunia. Mama bilang "Mau makan sama apapun, yang penting jangan sampe punya hutang". 

Tapi, saat ini yang beberapa kali gue lakukan adalah berbohong. Setiap mama nanya masih ada bekel (yang dimaksud adalah uang). Jawaban gue adalah "ada". Meskipun sebenarnya pas-pasan san. Maaf mah, setidak nya biarkan anak mu ini merasakan ini semua, juga menemui fakta-fakta baru dalam menjalani semua nya. Supaya bisa menghargai setiap perjuangan bapak, agar tidak menganggap enteng segala sesuatu nya. Perlahan teteh juga merasakan nya mah. Permintaan teteh sampe kapan pun gabakalan berubah, yaitu do'a nya mamah. Berhenti bilang "asalkan teteh bahagia...". Mulai sekarang coba mamah ikuti juga kata hati mamah, ingin nya apa, suarakan. Supaya  teteh bisa tau, bisa berusaha mewujudkan itu.
Teteh sayang mamah, bapak, Shani 💞.
Love you 



Sabtu, 27 Januari 2018

Rahasia JUARA SMAN 26 GARUT di Mata Alumni


Terhitung sejak tahun 2014 saat pagelaran Invitasi Hockey Ruangan Pelajar (IHRP) Piala Rektor Universitas Negeri Jakarta ke-4, SMAN 26 Garut adalah salah satu tim yang tidak pernah absen sampai penyelenggaraan ke-8 tahun ini yang sudah bermetamorfosis ke taraf internasional sejak tahun 2017 lalu.
Hari ini mereka memboyong gelar JUARA UMUM, JUARA 1 Putri, JUARA 1 Putra. Tidak hanya itu, penghargaan individu juga di raih Wulan Adhani dan Cucu Darmawan sebagai best player.
Foto by perkumpulan hockey UNJ

Keterikatan emosional sebagai alumni sampai dengan hari ini dan entah sampai kapan masih saja dirasakan, terutama ketika tim putri main. Masih banget deg-degan saat mereka bersiap ke lapang, bahkan kalo liat setiap tingkah dan laku dari mereka sering banget ngaca nya karena apa yang mereka lakukan dulu juga pernah aku lakukan.
Hari itu mungkin aku belum mengenal konsep 3 kunci kemenangan (Latihan-latihan-latihan), tapi tanpa di sadari itu sering dilakukan di setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at atau Sabtu. Sepulang sekolah hal yang dilakukan sebelum menjelang latihan adalah makan bareng, yang nasi nya di beli bareng-bareng di warteg kecamatan. Setelah itu ngobrol dari bahasan paling penting sampai bahasan paling receh.
Keterikatan emosional dan kekompakan yang ada tidak muncul begitu saja, kami sangat merasa menjadi keluarga bukan hanya di lapang tapi juga di luar lapang, kami bukan hanya jadi keluarga saat ada pertandingan tapi setiap hari kami adalah keluarga.
Biasa nya menjelang pertandingan, latihan nya semakin rutin, karena lapangan serasa milik sendiri jadi mudah sekali atur waktu. Kadang setiap hari Minggu kita latihan tambahan. Pagi nya latihan, terus masak-masak an atau "ngaliwet" dalam bahasa kami. Biasanya kita yang masak nasi, ibu Surtini yang bawa lauk nya. Terus kita makan bareng semua nya di atas daun yang sudah disiapkan. Bagi aku itu adalah ciri khas kekompakan yang nyata dan sulit dilupakan.

Makan bareng setelah selesai latihan

Ah.... Satu lagi yang ga boleh terlewat, di hari Jum'at atau kadang pas hari Minggu nya kita juga sering berkunjung ke rumah Aa Eli (salah satu pelatih yang kemarin duduk di bench mendampingi tim putra). Rumah nya yang lumayan di gunung di manfaatkan buat latihan fisik, kita sering banget ke sana jogging. Terus nanti sampe rumah nya kita menyempatkan ke Curug dan masak lagi, juga makan bareng lagi.

"Curug" foto by Lani

Konsep nya mungkin sederhana tapi itu justru yang bisa membuat kita semakin merasa saling memiliki sebagai keluarga satu sama lain, dan itu terjadi di setiap generasi ke generasi.

Senin, 01 Januari 2018

Amburadul

Hari ini bapak menghubungi ku, dia bertanya tentang kabar anak sulungnya dan mengungkapkan rasa rindu nya. Setelah bayak perbincangan yang kita ributkan, ada satu topik yang aku harus tulis di sini. Aku mungkin harus melakukan survei ke banyak bapak-bapak yang memiliki seseorang gadis. 
Awal nya dia bertanya tentang kegiatan malam tahun baru ku, jelas saja aku jawab kalo aku hanya tidur di kamar kost, karena memang begitu adanya.
"Pak.. ini tahun 2018 ya.." 
Aku dengar jawaban "iya..." Di sebrang sana.
"Masih jomblo nih, pak..." Ungkap ku, yang hanya di hadiahi kekehan kecil dari nya.
"Bukannya mau kerja dulu ya...?" Tanya nya, mungkin dengan sedikit memberi gambaran pilihan yang dia miliki.
"Kan bisa jalan dua-dua nya pak..." Elak ku, yang sebenarnya juga gak ngerti arah pembicaraan ini ke mana.
Ini gak normal sih sebenernya, karena gak tau kenapa akhir-akhir ini aku ingin memutuskan untuk pacaran saja. Mungkin karena banyak faktor, termasuk doktrin tentang perawan tua, padahal kan sebenernya jodoh juga udah ada yang ngatur, ga bisa dateng nya dicepetin atau di lamain. Mungkin ini sebuah penantian tapi terkesan terburu-buru, hey... Bahkan lulus kuliah juga belum, kerja juga belum, semua nya juga belum balik modal, jadi anak berbakti sama orang tua apalagi masih jauh.
Bahkan masih rancu dengan kalimat "membahagiakan orang tua" karena mereka juga selalu bilang kalo kebahagiaan orangtua adalah ketika anak nya juga bahagia.
Udah mau memulai babak baru dalam hidup aja, padahal kan sebenarnya babak yang ini aja belum selesai dijalanin. *Ngebet parah
So so an ingin cepet dihalalin padahal sebenernya juga kalo sekarang nih ada yang dateng ke rumah tetiba ngajak nikah kan ga siap juga.
Ini termasuk post alay gak sih? Padahal Tere Liye bilang anak alay itu anak yang usia nya sudah 20 han atau lebih tapi masih post kata-kata alay, dsb... Padahal alay itu kan bukan proses pendewasaan, eh mending alay sekarang deh, dari pada telat alay. Mudah-mudahan abis ini gak alay lagi.
Karena, selain aku dapet telepon dari bapak, aku juga dapet pesan singkat berisi voice note dari sodara ku yang merangkap jadi sahabat. Setelah sesi curhat kita akhirnya aku menemukan kalimat yang harus di museum kan. Dia bilang
"jangan terlalu baper sama cowok, harus bisa kompromi sama hati. Apalagi kalo dia udah punya ya cewe. Intinya sih jangan berani memulai, biarin dia aja"
Ah begitu lah kira-kira, kau tak usah ingin menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi, tunggu saja kelanjutan cerita nya. Aku yakin ko Allah akan mempersiapkan skrenario yang lebih keren dari yang aku pikirkan.
Setiap orang punya ceritanya masing-masing, termasuk aku. Jadi aku sangat berhak ngomong kurang piknik dan aku butuh liburan Sekarang juga. *Loh

Jumat, 22 Desember 2017

Catatan Akhir Tahun

Tidak terasa kita sudah berada di minggu terakhir bulan desember, tinggal menghitung hari kita akan menjajaki petualangan baru di tahun 2018. Sebelum melangkah menuju destinasi baru, gue mau flashback ke belakang untuk melengkapi perjalanan dalam petualangan ini. Bagi gue sendiri tahun 2017 ini memberikan kesan lebih dari biasanya, di banding tahun sebelumnya. Bukan merupakan pencapaian target tapi malah gue merasa ada banyak hal yang gue lalui dengan kegagalan. Gue menyebutnya GAGAL, pada saat itu.
Di awal tahun pada bulan Januari itu adalah kegagalan pertama yang gue alami. Gue merasa gagal karena harus menerima kalo UNJ putri hanya mendapat peringkat 3 di Kejuaraan Indoor tertua di negeri ini, Invitasi Hoki Ruangan Perguruan Tinggi (IHRPT) ITB. Kami kalah di babak semi final lawan UPI, lewat Finalty Shout out. Terlebih setelah nya gue merasa terus mimpi buruk kalo inget kenapa waktu itu gak ngambil kesempatan untuk menjadi salah satu penembak nya. Hari itu gue gak menangis, tapi jujur aja sampai dua minggu kedepan nya terus mimpi buruk gara-gara itu.
Setelah melewati event itu ada Invitasi Hoki Ruangan Mahasiswa Se-DKI Jakarta, kami juga kalah lawan STEI di final dan harus menerima hasil sebagai Runner Up di kejuaraan yang hadiah nya paling besar se-Indonesia itu. Hari itu gue juga tidak menangis, hanya saja cemberut dan mulai merasa muak dengan semua kekalahan. Apakah sampai di sana? TIDAK.
Tentu saja bekerja keras, latihan, latihan, latihan. Itu yang gue lakuin di hari Selasa, Kamis, Sabtu dari sore sampai larut malam. karena bukan hanya gue yang ingin menang, tapi semua nya juga bertekad sama untuk menjadi pemenang. Target berikut nya setelah itu bukan main-main, karena kita akan bertanding di kandang sendiri yang arena nya setiap jengkal sudah sering kita jajaki. Target Juara sudah di depan, waktu itu gue berpikir untuk tidak gagal lagi. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, yang detail cerita nya bisa di baca disini.
Hari itu gue menangis hebat, gue bertanya tentang “KENAPA”. Setelah beres pertandingan itu gue tak peduli apapun, yang bisa gue lakukan detik itu juga adalah menangis. Marah adalah yang gue lakukan setelah nya, gue marah pada semua nya termasuk pada diri gue sendiri dan yang gak bisa gue tahan saat itu adalah gue juga marah sama Risma sama Rika dan mengungkapkannya. Hari itu adalah bagi gue kekalahan untuk semua hal, gue juga kalah mengendalikan emosi gue, dan tenyata hari berikutnya yang terjadi adalah gue marahan sama risma sama rika, satu sama lain saling diam, saling sibuk dengan pikiran nya sendiri dan itu berlangsung lama.
Marahan itu adalah marahan terbesar yang ada di sepanjang persahabatan kita, lengkap sudah semua nya. Gue merasa bahwa “Kenapa ini semua terjadi” dan gue masih keras mencari alasan nya, yang tidak gue temukan juga.
Semua nya perlahan membaik ketika gue mencoba mendamaikan diri gue sendiri lalu meminta maaf dengan semua keberanian yang gue punya, padahal hari itu gue merasa sangat canggung dan malu sama seperti pertama kali mengenal mereka, hari itu juga gue gak menemukan jawaban dari permintaan maaf gue, hanya saja setelah nya suasana antara kita perlahan membaik. 
Hal berikutnya masih sama tentang hoki dan sebuah persahabatan, kita semua nya mencoba bangkit dari semua keterpurukan, kita akhir nya berhasil memenangkan gelar JUARA di Invitasi Hoki Ruangan (IHR) ISTN yang bisa di baca disini. Lalu gue juga ke Malaysia (lagi)  yang kisah nya udah gue tulis disini. Setelah itu berturut-turut event yang gue ikuti bahkan gue harus memilih diantara dua event yang cerita nya gue tuangkan disini.
Tahun 2017 ini titik balik gue dalam menyikapi segala sesuatu nya dan tentang kenapa semua itu terjadi jawaban nya gue temukan ketika gue naik gunung, ke Gunung Gede, yang sebenar nya kisah ini belum gue share di blog, hanya menguap di local disk D laptop.
Entah kenapa harus gue temukan ketika gue naik gunung tapi pelajaran nya banyak banget yang bisa gue ambil, sangkut pautnya sama hidup yang gue jalani. Selain itu gue jadi tau siapa diri gue yang sebelumnya belum pernah gue sadari.
Perjalanan menuju puncak gunung gede saat itu memberikan kesan yang mendalam, selain karena itu adalah pendakian pertama seorang Eva Suryati. 
Gue selalu ingin berada di barisan paling depan, karena tujuan gue saat itu adalah puncak Gunung Gede. Jujur aja gue sangat tidak sabar dengan apa sensasi yang di suguhkan puncak Gede itu. Tapi, ternyata perjalanan nya jauh, terjal, dan juga tidak sampe-sampe. Gue mengumpat dalam hati tentang “Kapan gue akan sampai puncak”.
Hari itu bukan Cuma rombongan Perkumpulan Hoki UNJ yang nanjak lewat jalur itu. Tapi banyak juga orang yang nanjak dan beberapa malahan sudah turun. Meskipun kita tidak saling mengenal tapi selalu bertegur sapa dengan semua orang yang kita temui, bebapa menyemakati untuk tetap mendaki. Beberapa orang yang bilang kalo naik gunung itu jangan kecepetan jalan nya yang penting continu. Sesekali berhenti boleh, tapi jangan kelamaan karena nanti irama nya hilang dan jangan lupa perhatikan sekeliling, jangan sampai melewatkan apa yang di suguhkan alam, satu kata “Nikmati”.
Gue mencoba itu, dan ternyata benar. Gue terlalu fokus ke puncak sampai gue melewatkan banyak hal yang gue lalui, padahal hidup ini bukan hanya tentang bagaimana sensasi berada di puncak itu tapi adalah pelajaran yang bisa kita ambil ketika mencapai puncak itu.
Lalu gue mencoba menikmati perjalanan itu, mencoba menerima semua keindahan yang alam suguhkan ketika gue datang. 
Lalu gue sadar dalam hidup yang gue jalani kadang gue kurang menikmati sebuah perjalanan karena selalu fokus dalam satu hal. 
Tentang jawaban “KENAPA”  itu?
Gue jadi tau kalo gue adalah manusia yang terlalu mengatur Tuhan, padahal dalam agama yang gue anut, gue harus beriman pada qada dan qodar, pada takdir nya Allah. Gue kadang sulit untuk menerima segala sesuatu yang terjadi dalam hidup gue tapi tidak gue ingin kan. Padahal Tuhan punya maksud sendiri untuk mendewasakan gue lewat perjalnan yang harus gue lalui. Terlebih gue suka atau tidak suka, semua nya akan tetap terjadi. Sebelum melangkah lebih jauh, gue harus menerima semua kegagalan dan seperangkat rasa yang dimiliknya sebagai sebuah pelajaran yang bisa gue pahami kemudian tentang semua yang telah terajadi.
Bang Izza bilang, “Kalo untuk hal kecil saja kita sudah menyalahkan Allah bagimana dengan hal besar lain nya, padahal ini baru segini.... di luar sana masih banyak yang lebih dari ini, sabar.”
Jadi intinya tentang semua kegagalan yang gue katakan di awal itu bukan hanya tentang kegagalan tapi itu adalah tentang cara gue belajar MENERIMA, karena dari penerimaan itu kita bisa jadi paham banyak hal yang nanti nya tetap akan menjadi bagian dalam hidup kita yang akan kita syukuri karena semua itu terjadi. Allhamdulillah, jangan lupa bersyukur..
Allhamdulillah juga akhir nya catatan akhir tahun ini sudah selesai, semoga ke depan nya semakin baik menurut Allah. Aamiii allahuma Aaamin.



Minggu, 10 Desember 2017

Tukar Jiwa

Dari sekian banyak orang yang tidak menginginkan kan kita, pasti ada aja seseorang yang selalu ingin kita tetap berada di sana. Bahkan dari sekian banyak orang yang tidak menganggap kita akan ada seseorang yang menjadikan kita yang paling utama. Entah dengan alasan apa, tapi bagi nya kita harus tetap tinggal.
Sedikit senyum banyak khawatir nya, sesekali takut. Ketakutan yang menghantuinya adalah ketika kita beranjak pergi, yang dalam benak nya akan selamanya.
Lalu, jika ada yang bertanya tentang alasan sampai saat ini tetap bertahan mungkin seseorang itu bisa jadi sebab nya. Kadang terlalu berat untuk meninggalkan keadaan yang membuat kita tidak nyaman hanya karena ada seseorang yang buat kita tetap berdiri, seolah baik-baik saja. 
Sekuat apapun alasan seseorang mempertahan kita jika yang menjalani nya tidak nyaman maka hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk pergi, tanpa meninggalkan apapun termasuk jejak dan bayangan. Sesendu apapun seseorang itu meratapi nya tapi setidaknya kita memang harus mencari kenyamanan dan hidup diantara orang-orang yang mayoritas menginginkan kita tetap ada.

Rabu, 22 November 2017

Si Raksasa yang Rendah Hati

Hockey UNJ juara lagi bray…….. 
Bagi sebagian alumni akan selalu merasa bangga dengan kabar ini, bagi orang-orang yang care sama hockey UNJ pasti sangat menantikan kabar ini, bagi tim lawan mungkin bakal nanggepin ini dengan kalimat “hmm….” Sambil kipas-kipas pake kardus bekas, saking gerah nya UNJ sulit di lawan. Namun, kemenangan Tim UNJ di event “Universitas Indonesia Indoor Hockey Turnament” yang di selenggarakan tanggal 17-21 November itu memberikan kesan tersendiri terutama bagi tim hockey putra UNJ. Mengapa demikian?
Kamu harus tau kalo event kemarin menjadi gelar JUARA ke lima kali nya yang di raih tim Putra UNJ tahun 2017 ini, mereka sapu bersih setiap kejuaraan yang diikuti, arti nya resmi sudah gelar Grand Slam- istilah yang digunakan dalam cabang olahraga tenis, untuk menerangkan memenangi empat turnamen. 

Foto by UNJ Hockey

Kemenangan pertama di awal tahun 2017 lalu mereka raih di IHRPT ITB. Lalu tak selang waktu lama gelar juara mereka raih di Invitasi Hoki Ruangan Mahasiswa se-DKI Jakarta, kemudian pada bulan April di kandang sendiri UNJ berhasil ada di podium tertinggi pada event Kejuaraan Hoki Ruangan Mahasiswa antar Perguruan Tinggi Piala Bergilir Menpora RI. Tidak hanya jago kandang, tim putra hoki UNJ juga berhasil membuktikan diri nya di Invitasi Hoki Ruangan ISTN dengan hasil yang memuaskan, selain menjadi juara mereka juga sapu bersih tanpa ke jebolan satu pun. Tak tanggung tim putra UNJ juga menuntaskan misi nya di event Universitas Indonesia Indoor Hoki Tournament sebagai penutup kalender event hoki antar perguruan tinggi dan lengkap sudah gelar Grand Slam melekat pada raksasa ini.

“Meraih kemenangan itu mudah, mempertahankan nya sulit…”
Segala sesuatu itu tidak ada yang mudah, demikian juga dengan semua yang di raih oleh tim putra UNJ. Semua itu hasil dari proses dan kerja keras, tidak semata-mata “abakadabra….” Atau “tring….”.
Jika mereka puas mungkin mereka akan berhenti di satu atau dua event namun karena mereka tidak pernah berhenti untuk latihan..latihan....latihan jadilah mereka seperti itu. 
Satu hal yang tak kalah penting dan patut di acungi jempol adalah prinsip mereka untuk tim adalah menjadi raksasa yang rendah hati. 


Minggu, 19 November 2017

Babak Kualifikasi PORDA

Kita bukan ampibia yang hidup di dua alam, kita hanya seorang warga negara yang mempunyai administrasi antara lain Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk. Ah... Kamu pasti bingung kan apa maksud nya?

Di Indonesia ada event nasional atau sering kita kenal dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak tahun 1948 di solo, PON yang terakhir dilaksanakan di Jawa Barat dan yang selanjutnya PON ke 20 akan di laksanakan di Papua tahun 2020. Event ini sebagai ajang para atlet untuk membela daerah nya.
Bagaimana dengan aku?
PON tahun 2020, sempat ada pikiran untuk bermain membela DKI Jakarta, tapi ternyata tidak bisa dengan beberapa alasan. Jadilah aku harus main di Jawa Barat, tapi itu juga tidak mudah. Aku harus melewati banyak hal untuk bisa bermain dan terpilih menjadi ada di Tim Jawa Barat. Apakah ini mimpi?
Aku rasa bukan, tapi lebih dari itu.. ini adalah hal yang harus aku jalani jika aku ingin bermain untuk Indonesia membela Merah Putih dan berjuang secara nasionalisme, karena hanya ada diantara event antar mahasiswa tidak cukup mengantarkan aku menjadi tim Nasional.
Fakta nya ternyata untuk ada di komposisi tim Jawa Barat juga tidak mudah, mengingat banyak atlet hockey yang tersebar dimana-mana. Juga tahapan nya juga aku harus bermain di Pekan Olahraga Daerah yang diadakan pengprov hockey JABAR.
Mengingat hal itu, aku pun harus bermain mewakili Garut dulu di ajang PORDA itu.

Kemarin tanggal 16 sampai 18 November Babak Kualifikasi PORDA untuk cabang olahraga hockey Field dilaksanakan di Jalak Harupat, Bandung.
Ibu Surtini yang meminta langsung aku bermain di sana membela Garut, tentu saja aku sangat bersedia. Mengingat aku sampai sekarang belum bermain membela Garut. Waktu PORDA tahun 2014 lalu bahkan aku tidak ada, baik di nomor hockey indoor maupun hockey Field.
Kemarin meskipun harus bertanding di nomor hockey field setidaknya aku bermain dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. 

Tahun 2012 aku gagal berada di tim untuk membela Garut. Waktu itu aku berpikir keras kenapa aku Gagal, padahal aku sama dengan yang lain mengikuti setiap sesi latihan, menjalankan intruksi, berkorban dan melakukan semua nya sepenuh hati. Namun pelatih yang saat itu di percaya memegang tim Hockey Indoor Garut itu tidak sedikitpun melirik Eva Suryati. 
Hari itu adalah hari Minggu, setelah selesai latihan sesi pagi daftar nama pemain yang akan bertanding di bacakan. Aku duduk di barisan paling depan dengan banyak harapan ada nama Eva Suryati.
Nama demi nama di bacakan...
Risma...
Cucu..
Amvi....
Dia...
Dia...
Dia....
Mereka....
Sampai di daftar nama yang ke-12 nama Eva tak kunjung disebutkan. 
Ternyata aku tidak ada di TIM.
Setelah selesai sesi latihan aku pulang, entah dengan dendam atau tanpa dendam. Aku hanya berpikir saat itu aku kehilangan kepercayaan diri. 
Apakah aku berhenti di sana?
Sampai detik ini aku masih tetap latihan, jika waktu itu untuk sekolah Sekarang untuk almamater. Setelah itu aku tidak berharap banyak untuk bisa bermain membela Garut. Tapi, Tuhan punya skrenario lain. Babak kualifikasi PORDA kemarin menentukan apakah aku akan ada di Tim atau tidak.

Hockey Field Garut

Tim Garut

Tim Hockey field Garut adalah tim Sangkuriang. Mengapa demikian? Karena kami baru bisa bareng seluruh anggota tim itu H-5. Anggota TIM nya juga random banget, dari seluruh pelosok Garut tidak seperti tim Hockey Indoor yang seluruh anggota tim nya adalah siswa SMAN 26 Garut. Secara logika mereka selalu latihan setiap hari. Sedangkan komposisi hockey field ada beberapa orang dari UNJ, dari UNSUR Cianjur, dari SAMA 26 Garut, juga dari 11 Garut.
Tantangan nya tidak hanya itu, tapi juga tentang keterbatasan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Tidak semua orang menguasai teknik hit, tidak banyak juga ya menguasai teknik slap. Juga semua masih terus beradaptasi dari hockey indoor ke hockey field. Tapi tekad ku hanya satu dalam menghadapi ini.
"Saya adalah pemain hockey, saya terlahir untuk bermain hockey terlepas itu hockey indoor maupun hockey field. Jika yang ingin mereka kalahkan adalah seorang pemain hockey indoor mereka keliru karena aku pemain hockey sejati" cieelaaah.... Wkwkwkw

Hasil Babak Kualifikasi PORDA

Hockey indoor lebih dulu dipertandingkan, tapi kontingen hockey Garut berangkat bareng.
Sambil menunggu pertandingan sesungguhnya kami melakukan dua kali uji tanding lawan kota Bandung yang hasil nya kalah telak 7-0 untuk kota bandung. Lalu di hari berikutnya kami uji tanding melawan hockey Kabupaten Bandung dan kami kalah 2-0, point untuk kabupaten Bandung.

Dengan semua keterbatasan tim, kami mulai membangun nya sama-sama. Bermula dari saling mengenal karakter masing-masing sampai menyatukan tekad dan tujuan untuk hockey Garut.

Hari yang ditunggu tiba..
Hockey Garut berada di Pool X yang komposisi  nya ada tim Hockey Garut, Kota Bandung, Cianjur dan Cimahi.
Pertandingan pertama kita melawan hockey Kota Bandung. Strategi yang dipilih adalah bertahan total atau kita sering menyebutnya dengan parkir bis. 
Kuarter pertama kami masih bisa nahan, tapi di kuarter ke 2 di menit akhir kami kebobolan 2 gol secara berturut-turut.
Di kuarter ke 3 kita melakukan serangan balik dan berbuah satu gol. Tapi di kuarter terakhir kota Bandung berhasil mencetak gol dari finalty corner. Skor berakhir dengan 3-1 untuk kota Bandung.

Hari ke dua kami melawan tim Hockey Cianjur, karena kekuatan tim kita hampir sama maka strategi yang dipilih adalah serangan terbuka. Semua nya berjuang dan skor berakhir dengan 3-1 untuk kabupaten Garut. Alhamdulillah bisa menang..

Hari ketiga, kami melawan tim Hockey Cimahi dengan pola yang sama, aku ada di posisi striker yang partner nya selalu berubah-rubah. Kadang dengan Taoziah, sesekali dengan Mila kadang juga dengan Kiran.
Hasil nya Alhamdulillah patut di syukuri karena kami menang 6-0.

Tim Hockey Garut berada di Runner up pool X yang juara pool nya Kota Bandung.

Lalu kami bersiap untuk PORDA tahun 2018, bismillah....